Thailand Desak Kamboja Minta Maaf atas Ledakan Ranjau

Thailand Desak Kamboja Minta Maaf atas Ledakan Ranjau
Petugas dari Pusat Aksi Ranjau Kamboja (CMAC) memperlihatkan bom jenis MK-84 yang tidak meledak dan jatuh mengenai salah satu rumah warga di Desa Thmor Doun, Distrik Banteay Ompel, Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja, pada Jumat (29 Agustus 2025). (SUMBER FOTO: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Thailand menuntut permintaan maaf resmi dari Kamboja terkait insiden ledakan ranjau darat yang melukai sejumlah tentaranya dan memicu penangguhan perjanjian damai antara kedua negara, sebagaimana dilaporkan oleh Thai Enquirer pada Selasa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, menyatakan bahwa Bangkok telah meminta Phnom Penh untuk mengambil tiga langkah utama sebagai bentuk tanggung jawab. Langkah tersebut meliputi penyampaian pernyataan penyesalan resmi, pelaksanaan penyelidikan menyeluruh terhadap insiden, serta penerapan tindakan pencegahan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Akibat ledakan tersebut, Thailand memutuskan untuk menangguhkan sementara pakta perdamaian yang telah ditandatangani bersama Kamboja pada Senin. Militer Thailand menuduh pasukan Kamboja menanam ranjau anti-personel jenis PMN-2 di wilayah Huai Tamaria, Distrik Kantharalak, yang disebut baru saja dilakukan.

Baca Juga:8 Generator Prompt AI Gratis: Tools Canggih untuk Bantu Pekerjaanmu!7 Motor Listrik Roda Tiga Terbaik di 2025

Menanggapi tuduhan itu, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Letnan Jenderal Maly Socheata, mengungkapkan rasa “penyesalan” atas peristiwa tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa patroli tentara Thailand dilakukan di area yang masih memiliki sisa ranjau dari konflik lama, bukan di wilayah yang baru ditanami ranjau.

Dalam laporan Khmer Times, Maly juga “membantah dengan tegas” tudingan bahwa pasukan Kamboja menanam ranjau baru di perbatasan. Ia menyebut bahwa negaranya telah lama berkomitmen untuk membersihkan wilayah dari ranjau darat peninggalan perang.

Sebagai bentuk protes resmi, Bangkok telah melakukan komunikasi diplomatik melalui sambungan telepon dan berencana mengirim surat resmi kepada pemerintah Kamboja, serta menyalinnya kepada Jepang, Sekretaris Jenderal PBB, Amerika Serikat, Malaysia selaku Ketua ASEAN, dan negara anggota ASEAN lainnya.

Selain itu, sebagai langkah pembalasan sementara, Thailand juga menunda pembebasan 18 tentara Kamboja yang masih ditahan sejak bentrokan di perbatasan pada bulan Juli lalu.

Sebelumnya, kedua negara baru saja menandatangani perjanjian damai di Kuala Lumpur bulan lalu, dalam sebuah acara yang disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Namun, insiden ledakan ranjau ini kini kembali menguji stabilitas hubungan diplomatik antara Thailand dan Kamboja yang selama ini dikenal rentan terhadap ketegangan perbatasan.*

0 Komentar