JABAR EKSPRES – Keberadaan transportasi umum Whoosh si Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), tengah jadi sorotan karena minimnya pengguna yang berdampak kerugian.
Pemerhati Transportasi, Muhamad Akbar mengatakan, pemerintah punya tugas besar dalam menjadikan Whoosh agae lebih dari sekadar kendaraan publik.
“Meski dibayangi tantangan finansial, Whoosh belum kehilangan harapan,” katanya kepada Jabar Ekspres, Jumat (31/10/2025).
Baca Juga:Soal Utang Whoosh, Presiden Perintahkan Menteri Cari Solusi Terbaik!Whoosh Dinilai Bebani PT KAI, Anggota DPD: Lebih Baik Dipisahkan
Kunci utamanya, ujar Akbar, yakni terletak pada kemampuan pemerintah dan operator dalam merancang strategi jangka panjang yang adaptif.
“Bukan sekadar mengejar break-even point, melainkan menciptakan nilai tambah berkelanjutan,” ujarnya.
Akbar menerangkan, adapun caranya, pemerintah bisa memperluas basis pengguna, menguatkan konektivitas antarmoda, serta mengoptimalkan potensi ekonomi di sekitar jalur dan kawasan stasiun.
“Dengan strategi tepat, Whoosh bisa menjadi lokomotif baru bagi pertumbuhan kawasan,” terangnya.
Untuk mewujudkan strategi tersebut, Akbar berucap, langkah pertama dan paling krusial adalah membenahi mata rantai yang selama ini terputus, yakni konektivitas.
“Lokasi Halim dan Tegalluar memang bukan di jantung kota, namun itu seharusnya bukan masalah bila tersedia angkutan pengumpan yang nyaman, andal, dan terintegrasi,” ucapnya.
Akbar memaparkan, Light Rail Transit (LRT) di Halim memang sudah beroperasi, tapi menurutnya integrasinya masih jauh dari ideal.
Baca Juga:Meski Timbul Banyak Persoalan, Teknologi Whoosh Si Kereta Cepat Tetap Patut Diapresiasi Tak Hanya Timbulkan Kerugian, Hadirnya Whoosh Banyak Melahirkan Dampak Negatif
“Waktu tunggu belum sinkron, informasi terbatas, dan proses berpindah moda masih terasa rumit bagi penumpang,” paparnya.
Dijelaskan Akbar, Jalur Jakarta-Bandung bukan sekadar koridor bisnis, tapi juga merupakan kawasan wisata yang terus berkembang.
Inisiatif paket terpadu semacam Whoosh plus Glamping Lembang, atau Whoosh plus Heritage Trip Asia-Afrika, dinilai dapat menjadi magnet bagi segmen wisatawan urban, yang mendambakan perjalanan singkat tanpa repot.
“Kelebihan utama Whoosh di sini jelas, yaitu mobilitas tinggi yang memanfaatkan waktu perjalanan tanpa mengorbankan kenyamanan,” jelas Akbar.
“Peluang serupa juga sangat terbuka lebar di segmen korporasi,” tambahnya.
Akbar mengungkapkan, Kawasan Tegalluar dinilai bisa dikembangkan menjadi pusat konferensi terpadu.
“Rapat, pelatihan, hingga gathering perusahaan dapat dilakukan di Bandung tanpa perlu menempuh perjalanan jauh,” ungkapnya.
“Konsep “meeting out of town” ini menarik bagi perusahaan, yang mengejar efisiensi sekaligus suasana kerja yang lebih segar dan inspiratif,” pungkas Akbar. (Bas)
