Geger Awan Hitam Beterbangan di Subang, Awan Kinton?

Geger Awan Hitam Beterbangan di Subang, Awan Kinton?
Geger Awan Hitam Beterbangan di Subang, Awan Kinton?
0 Komentar

Sementara itu, BMKG Bandung memastikan bahwa fenomena tersebut tidak disebabkan oleh proses atmosfer atau pembentukan awan alami.

“Berdasarkan hasil kajian meteorologis, fenomena itu tidak termasuk dalam proses cuaca, awan, atau aktivitas atmosfer lain,” tegas Teguh Rahayu, Kepala BMKG Bandung.

Menurutnya, secara ilmiah awan terbentuk dari kondensasi uap air di atmosfer, memiliki pola dan ketinggian tertentu yang bisa terdeteksi lewat citra satelit maupun radar cuaca BMKG. Gumpalan hitam di Subang tidak memenuhi ciri tersebut.

Baca Juga:Kenapa Pembatalan Kelulusan PPPK Paruh Waktu 2024 Dilakukan? Ini Alasan BKNViral! Gara-Gara Tatapan Mata, Geng Motor Zestier Ngamuk dan Serang Gym di Bandung

BMKG menduga bahwa gumpalan hitam tersebut berasal dari aktivitas di permukaan bumi, bukan fenomena langit.

“Fenomena itu kemungkinan berasal dari aktivitas industri, reaksi kimia limbah, atau proses manusia lain yang menghasilkan busa atau material ringan yang kemudian terangkat oleh angin,” jelas Teguh.

Ia menegaskan bahwa pemeriksaan lebih lanjut oleh instansi terkait sangat dibutuhkan untuk memastikan kandungan material gumpalan tersebut.

BMKG merekomendasikan agar DLH dan BPBD setempat melakukan uji laboratorium terhadap sampel gumpalan hitam itu untuk menentukan tingkat bahaya atau dampak lingkungannya.

“Kami siap mendukung dengan data cuaca dan atmosfer jika diperlukan dalam kajian lanjutan,” tambah Teguh.

Fenomena awan hitam di Subang ini masih menjadi teka-teki hingga kini. Warga berharap pemerintah bisa segera mengungkap penyebab pasti agar kejadian serupa tidak terulang dan menimbulkan keresahan di masyarakat.

0 Komentar