Nasib baik seakan hanya sesekali singgah sejenak di depan gubuk reyot mereka. “Kerja serabutan, kalau ada yang nyuruh kerja apa saja,” ucap Tati.
Ia menggambarkan betapa rentan dan rapuhnya fondasi ekonomi keluarga mereka. Upah harian yang tidak menentu itulah yang menjadi tumpuan untuk membeli beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya yang harganya kian melambung.
Di tengah himpitan ekonomi yang tak kunjung usai, sebuah ujian lain datang menghampiri. Anak bungsu Tati harus berhadapan dengan penyakit batu ginjal yang memerlukan tindakan operasi. “Bersyukur, untuk pengobatan bisa dicover oleh BPJS Kesehatan,” tutur Tati.
Baca Juga:Bojan Hodak Waspadai Kebangkitan Selangor FC, Julio Cesar Siap Perkuat Lini Pertahanan PersibJurgen Klopp Akui Tolak Tawaran Manchester United!
Tiga tahun berjuang di tengah jurang keprihatinan, bantuan yang mereka terima dari pihak mana pun nyaris tidak menyentuh akar persoalan. “Bantuan paling beras, kalau bantuan untuk rehab rumah belum ada,” kata Tati. (CEP)
