Kapasitas Kelas Berbeda, Smansa Bandung Sesuaikan Diri dengan Aturan Rombel

Refleksi di cermin kelas sejumlah pelajar melakukan pembelajaran di SMA Negeri 1, Kota Bandung, Jumat (17/10).
Refleksi di cermin kelas sejumlah pelajar melakukan pembelajaran di SMA Negeri 1, Kota Bandung, Jumat (17/10). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kebijakan pembatasan maksimal jumlah rombongan belajar (rombel) hingga 50 siswa tak sepenuhnya bisa diterapkan di SMAN 1 Bandung. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Kardiana, mengatakan kondisi ruang kelas di sekolah itu tak memungkinkan untuk menampung jumlah siswa sebanyak itu.

“Di sini nggak bisa kalau 50. Ini paling maksimal 44. Itu juga kelasnya (beberapa kelas memungkinkan). Kalau yang lain kecil-kecil. Mungkin tahun depan nggak tahu nih,” ujar Kardiana saat ditemui Jabar Ekspres di sekolah, Jumat (17/10).

Menurutnya, kapasitas setiap ruang kelas di Smansa tak seragam. Gedung lama memiliki ruang berukuran besar, sementara beberapa ruang di bagian belakang jauh lebih kecil.

Baca Juga:Kejurnas Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Resmi Dibuka, Jateng Jadi Tuan Rumah Cabor Atletik dan TaekwondoLewat Kindness to Progress, IFG Bangun Ekosistem Sosial yang Inklusif

“Tahun depan kan kelas ruang kelas 2, itu kapasitasnya 36. Itu juga udah mepet. Sepertinya nggak bisa,” katanya.

Saat ini, kelas 10 terdiri atas 11 ruang kelas dengan jumlah siswa yang bervariasi. “Ada yang 44, ada yang 36. Kalau melihat sekarang ada situasi yang berbeda. Jumlah siswa juga berbeda,” imbuhnya.

Kardiana menuturkan, pihak sekolah harus beradaptasi dengan kondisi baru tersebut. Selain pengaturan ruang, penyesuaian juga dilakukan oleh para guru dalam proses mengajar.

“Gurunya juga pengaruhnya (ngajar) kelas 1. Ada yang pakai speaker, karena suara dia akan ke-reduksi-lah istilah bahasa fisikanya. Terlalu banyak (siswa), sehingga dia pakai mic portable,” tuturnya.

Dia menyebut, penambahan siswa dalam satu kelas berdampak pada kenyamanan belajar. “Spacenya jadi makin kecil. Terus anak-anaknya juga mungkin ada yang kurang nyaman,” ujarnya.

Namun, kondisi itu masih bisa diatasi berkat sarana pendukung yang dimiliki sekolah. Menurut Kardiana, pengaturan jumlah siswa per kelas menyesuaikan ukuran ruangan yang tidak seragam.

“Kalau dulunya sama semua ukurannya 8×7 kalau nggak salah. Itu pas memang buat anak 44,” katanya.

Baca Juga:Aduan Penerimaan Siswa SMA/SMK Negeri Jateng Berkurang, Ombudsman Apreasiasi Pemprov JatengKasih Palestina Dukung Pemulihan Gaza lewat Penyaluran Bantuan Pangan di Momentum Hari Pangan Dunia

Namun duitnya mengakui, di awal semester sempat terjadi kekurangan kursi dan meja karena tidak ada persiapan sebelumnya. “Tiba-tiba harus nambah 44 per kelas,” ujarnya.

Meski kebijakan pemerintah mengatur jumlah maksimal rombel, Kardiana menegaskan pihaknya tetap menyesuaikan dengan kemampuan sekolah.

“Kami apapun itu yang dilakukan oleh pemerintah, kami menjalankan semaksimal kita. Tapi kita juga kan mengukur diri. Kalau sekolahnya nggak cukup gitu. Terutama karena bangunan, tempatnya mereka belajar gitu,” tuturnya.

0 Komentar