Warga Solokanjeruk Antar Anak Sakit Pakai Odong-odong, Desa Sebut Terjadi Salah Persepsi Pelayanan

Sangara atau Ara (65), warga Desa Solokanjeruk, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung yang viral lantaran
Sangara atau Ara (65), warga Desa Solokanjeruk, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung yang viral lantaran kesal terhadap pemerintahan Desa. Foto Agi
0 Komentar

“Kita saling memaafkan. Kata Pak Camat, pelayanan desa sekarang harus standby dan enggak boleh ada warga yang enggak dilayani,” ungkap Ara.Meski banyak warga mendukung tindakannya, Ara mengaku sudah memaafkan pihak desa. Ia berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bersama.

“Banyak yang bilang saya benar, tapi saya juga sadar mungkin caranya salah. Saya maafkan semuanya, biar Tuhan yang tahu siapa yang salah,” ujarnya.Ara berharap pelayanan publik di desanya bisa lebih terbuka dan responsif terhadap kebutuhan warga.

“Saya cuma ingin kalau ada warga sakit, jangan dipersulit. Mobil pelayanan itu kan milik masyarakat. Jadi siapa pun harus bisa pakai kalau darurat,” katanya menutup pembicaraan.Sementara itu, Sekretaris Desa Solokanjeruk, Ilan Darwulan, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menjelaskan, peristiwa itu terjadi karena salah persepsi dan faktor waktu.

Baca Juga:Pangkas Dana Transfer Daerah, Pakar Unpad Peringatkan Potensi KetimpanganYayasan Kasih Palestina Siap Bangun Kembali Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza

“Saya atas nama pemerintah desa mohon maaf kepada keluarga Pak Ara. Ini murni salah persepsi. Saat itu memang hari Minggu dan bertepatan waktu salat magrib, di kantor cuma ada petugas kebersihan,” kata Ilan, Selasa (14/10/2025).Ia menegaskan, mobil pelayanan desa sebenarnya bisa digunakan untuk warga dalam kondisi darurat, termasuk untuk mengantar pasien. Namun pada saat kejadian, tidak ada petugas yang bisa mengoperasikan kendaraan tersebut.

“Bukan enggak boleh dipakai, cuma kebetulan enggak ada yang bisa nyetir. Kalau saya datang setelah magrib, mungkin enggak akan terjadi masalah seperti itu,” ujarnya.Menurut Ilan, hasil mediasi antara pemerintah desa, camat, dan keluarga Ara berjalan baik. Kedua pihak sepakat menjadikan kejadian ini sebagai bahan introspeksi dan pembenahan pelayanan publik.

“Alhamdulillah, hasil mediasi berjalan baik. Ini jadi pelajaran bagi kami supaya pelayanan masyarakat ke depan lebih baik lagi,” jelasnya.Ia menambahkan, hikmah dari peristiwa ini adalah tumbuhnya kesadaran untuk memperkuat sistem pelayanan publik di desa.

“Kami bersyukur, dari kejadian ini muncul dorongan untuk memperbaiki sistem pelayanan,” pungkasnya.Meski sempat ramai di media sosial, baik pihak desa maupun keluarga Ara kini sepakat untuk tidak memperpanjang persoalan.

Laman:

1 2
0 Komentar