“Kalau dibilang cukup, ya cukup buat makan dan kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, dari bikin coet ini bisa nyekolahin anak sampai lulus,” ucapnya dengan nada penuh syukur.
Bagi Ating, pekerjaan ini bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan menjaga kehormatan tradisi. Ia tak ingin warisan para leluhurnya hilang begitu saja ditelan zaman.
“Bikin coet itu bukan cuma soal batu. Ini soal warisan, soal jati diri. Kalau bukan kita yang nerusin, siapa lagi?” katanya.
Baca Juga:Cerita Siswa dan Guru SDN Cibabat Mandiri 2 Cimahi Lestarikan Permainan Tradisional di Tengah Gempuran GadgetKembangkan Ekosistem Seni dan Budaya, Pemkab Bandung Resmikan Tiga Inovasi Unggulan
Harapan itu kini diteruskan oleh segelintir anak muda seperti Acep (25). Di usianya yang masih muda, ia memilih tetap tinggal di kampung dan menekuni profesi sebagai pembuat coet.
Di tengah teman-teman sebayanya yang bekerja di pabrik, ia justru merasa bangga bisa melanjutkan pekerjaan turun-temurun keluarganya.
“Alhamdulillah sehari bisa dapat Rp100 sampai Rp150 ribu, tergantung berapa coet yang jadi. Memang berat, tapi ini pekerjaan yang mulia. Saya nggak mau tradisi ini hilang,” ujarnya dengan nada mantap.
Bagi Acep, setiap coet yang ia hasilkan punya makna tersendiri. Ia melihat batu bukan sekadar benda mati, melainkan simbol ketekunan dan ketulusan.
“Batu itu keras, tapi kalau dipahat dengan sabar, bisa jadi alat yang berguna. Sama seperti hidup, butuh kesabaran untuk bisa membentuk sesuatu yang berarti,” katanya.
Kini, di tengah maraknya pembangunan perumahan dan industri yang menggerus lahan batu di sekitar kampung, para pengrajin coet harus berjuang lebih keras. Bahan baku makin sulit didapat, sementara permintaan dari pasar mulai menurun. Beberapa warga bahkan terpaksa berhenti karena lahan mereka dijual kepada pengembang.
Namun di tengah tekanan modernisasi itu, Kampung Pojok masih menyimpan denyut kehidupan tradisional yang tak lekang oleh waktu. Suara palu yang berdentang setiap pagi menjadi penanda bahwa semangat warisan leluhur belum padam.
Baca Juga:Tingkatkan Minat Baca pada Anak, Inilah Strategi DWP Cimahi Bangun Budaya Membaca Lewat Peran KeluargaBanjar Luncurkan Pasar Cerdas, Sentuhan Digital untuk Menghidupkan Kembali Semangat Pasar Tradisional
Mereka mungkin tak punya banyak harta, tapi punya kebanggaan menjaga tradisi dengan tangan sendiri. Dari batu-batu yang mereka pahat, tersimpan cerita panjang tentang keteguhan, warisan, dan cinta terhadap tanah kelahiran.
