Hari Kesehatan Mental Sedunia: Billy Martasandy Ajak Masyarakat Lebih Peka Terhadap Kesehatan Jiwa di Era Teka

Hari Kesehatan Mental Sedunia. Foto Ist
Hari Kesehatan Mental Sedunia. Foto Ist
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober, CEO Martasandy Grup, Billy Martasandy menyerukan pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan.

Ia menilai, di tengah perkembangan ekonomi digital dan perubahan sosial pascapandemi, persoalan kesehatan mental kini bukan lagi isu pribadi, melainkan tanggung jawab kolektif yang harus dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari lingkungan kerja hingga keluarga.

“Kesehatan mental bukan sekadar tentang gangguan atau stres individu, tapi soal bagaimana kita membangun lingkungan yang mendukung empati, keseimbangan, dan penghargaan terhadap perasaan manusia. Dunia kerja, sekolah, bahkan rumah tangga, semua punya peran,” kata Billy Martasandy.

Baca Juga:Lewat 'Jabar Cerdas', 102 Mahasiswa Berprestasi dapat Beasiswa dari BAZNAS Update Kecelakaan Maut Cijambe Subang: 3 Orang Tewas dan 5 Luka-luka , Lalu Lintas Macet Hingga 5 Kilometer

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar generasi saat ini adalah beban tekanan sosial yang datang dari dunia digital. Media sosial, katanya, telah menjadi ruang ekspresi sekaligus ruang kompetisi yang sering kali menimbulkan rasa cemas, rendah diri, hingga depresi, terutama di kalangan anak muda dan pekerja produktif.

“Kita hidup di zaman di mana orang lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain. Tekanan sosial dan ekspektasi kesuksesan begitu tinggi. Padahal, setiap orang punya ritme dan kapasitas yang berbeda. Kalau tidak diimbangi dengan kesadaran mental yang kuat, ini bisa jadi sumber masalah serius,” jelasnya.

Sebagai seorang CEO dan profesional berlatar Psikologi, ia menilai perusahaan dan dunia usaha perlu bertransformasi menjadi tempat kerja yang lebih manusiawi, bukan sekadar berorientasi pada target.

“Perusahaan harus mulai mengintegrasikan pendekatan psikologis dalam budaya kerja — bukan hanya soal produktivitas, tapi juga kesejahteraan karyawan. Pegawai yang bahagia secara mental akan lebih loyal dan kreatif,” tambahnya.

Sebagai pimpinan Martasandy Grup, ia mengaku latar belakang psikologi yang dimilikinya banyak membentuk cara pandang dalam mengambil keputusan bisnis dan memimpin tim.Menurutnya, empati, komunikasi terbuka, dan keseimbangan antara logika dan emosi adalah fondasi kepemimpinan modern yang sehat.

“Banyak orang mengira psikologi hanya untuk terapis, padahal psikologi adalah ilmu memahami manusia. Dalam bisnis, memahami manusia berarti memahami konsumen, memahami karyawan, dan memahami diri sendiri sebagai pemimpin,” katanya.

0 Komentar