Calon Praja Meninggal Dunia, IPDN Tegaskan Tak Ada Unsur Kekerasan Selama Diksarmendispra

Plt Wakil Rektor Bidang Hukum, Kerjasama dan Kepegawaian IPDN, Arief M.Edie (tengah) saat memberikan pemaparan
Plt Wakil Rektor Bidang Hukum, Kerjasama dan Kepegawaian IPDN, Arief M.Edie (tengah) saat memberikan pemaparan terkait meninggalnya Calon Praja Pratama IPDN. (Yanuar/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Jatinangor, yang berlokasi di wilayah Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat sebut Calon Praja Paratama yang meninggal dunia bukan karena isu kekerasan.

Plt Wakil Rektor Bidang Hukum, Kerjasama dan Kepegawaian IPDN, Arief M.Edie mengatakan, sebelum dinyatakan meninggal dunia, Calon Praja tersebut memang mengeluhkan lemas badan.

“Saya tidak tahu (kalau penyebab serangan jantungnya karena kenapa). Di hasil (pemeriksaan medis) dokter, henti jantung,” katanya, Jumat (10/10).

Baca Juga:Hari Kesehatan Mental Sedunia: Billy Martasandy Ajak Masyarakat Lebih Peka Terhadap Kesehatan Jiwa di Era TekaLewat 'Jabar Cerdas', 102 Mahasiswa Berprestasi dapat Beasiswa dari BAZNAS 

Arief menegaskan, tak ada unsur kekerasan yang dialami para Calon Praja (Capra) ketika melaksanakan seluruh kegiatan di Kampus IPDN Jatinangor.

“Tidak ada (kekerasan), waktu itu masih belum ketemu senior juga. Dia belum jadi praja, masih capra. Jadi belum ketemu sama senior,” tegasnya.

Diketahui, Calon Praja Pratama IPDN Angkatan XXXVI yang meninggal dunia itu, bernama Maulana Izzat Nurhadi (20), asal Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Calon Praja Pratama tersebut, sebelum dilaporkan meninggal dunia, sempat mengikuti pelaksanaan Pendidikan Dasar Mental dan Disiplin Praja (Diksarmendispra), di Kampus IPDN Jatinangor yang dimulai sejak Selasa, 30 September 2025.

Arief menerangkan, selama pelaksanaan kegiatan Diksarmendispra pun, seluruh Capra benar-benar diberikan bimbingan serta pengawasan sesuai aturan.

“Selama Dikser itu kalau tim medis selalu stand by, itu protak (protokol pelaksanaan) dan itu merupakan, SOP,” terangnya.

“Tidak ada (kekerasan) karena petugas ada, petugas kesehatan ada, semuanya ada. Dan ini semua sudah kita laksanakan di dalam kampus,” lanjut Arief.

Baca Juga:Update Kecelakaan Maut Cijambe Subang: 3 Orang Tewas dan 5 Luka-luka , Lalu Lintas Macet Hingga 5 KilometerBREAKING NEWS: Kecelakaan Maut di Cijambe Subang, Tiga Orang Tewas

Dia juga menjelaskan, pada pelaksanaan Diksarmendispra, seluruh Capra IPDN hanya diberikan tugas yang ringan, alias tak memakan energi berlebihan selama kegiatan.

“Tinggal di Mes, kegiatan juga baris berbaris, tidak ada yang lari-lari (berlebihan). Tidak ada yang kemana-mana juga (para Capra), lari sore wajar,” jelas Arief.

Dia memaparkan, terkait faktor penyebab meninggalnya Calon Praja Pratama asal Maluku Utara itu, diduga karena berhentinya detak jantung.

Arief menyampaikan, ketika proses seleksi kesehatan, Capra tersebut catatan medisnya cukup bagus, namun saat kondisi lemas dan setelah diperiksa, dokter menyatakan meninggal dunia akibat berhenti detak jantung.

0 Komentar