Hamas Minta Jaminan Nyata untuk Akhiri Perang Gaza dan Wujudkan Perdamaian Permanen

Hamas Minta Jaminan Nyata untuk Akhiri Perang Gaza dan Wujudkan Perdamaian Permanen
Pemimpin Hamas, KhalilKhalil al-Hayya (SUMBER FOTO: X)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemimpin Hamas, Khalil al-Hayya, pada Selasa menegaskan perlunya adanya “jaminan nyata” yang dapat memastikan berakhirnya konflik bersenjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.

Dalam wawancara dengan saluran berita pemerintah Mesir, Al-Qahera News, al-Hayya menyatakan bahwa pihaknya siap mencapai kesepakatan untuk menghentikan perang, menarik seluruh pasukan Israel dari Gaza, serta melakukan pertukaran tawanan, termasuk warga Israel yang masih hidup maupun yang telah meninggal, dengan tahanan Palestina, sebagaimana diatur dalam rencana yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.

“Kami menegaskan kesiapan kami mencapai (kesepakatan) untuk mengakhiri perang, menarik pasukan Israel dari Gaza, dan membebaskan semua tawanan Israel – baik yang hidup maupun yang mati – dengan imbalan tahanan Palestina sesuai rencana (Presiden AS Donald) Trump,” ujarnya.

Baca Juga:6 Tips Mencegah Jari Pecah-Pecah agar Kulit Tetap SehatMarc Marquez Absen di MotoGP Australia dan Malaysia Akibat Cedera Bahu Kanan

Namun, menurut al-Hayya, Israel terus melancarkan serangan dan menghalangi bantuan kemanusiaan, terutama di wilayah utara Gaza, bahkan setelah Hamas menyatakan kesediaannya menerima rencana perdamaian tersebut.

“Namun, Israel masih terus membunuh dan memblokade bantuan, terutama di Gaza utara, sejak kami mengumumkan persetujuan kami atas rencana Trump.” sambungnya.

Ia juga menuduh Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada November 2023, dan melanjutkan agresinya di wilayah tersebut.

“Israel tidak pernah menepati janjinya sepanjang sejarah,” tegas al-Hayya.

Pemimpin Hamas itu menambahkan bahwa pihaknya sudah berulang kali menguji pemerintahan Israel yang dianggap tidak dapat dipercaya, sehingga dibutuhkan jaminan konkret dari komunitas internasional, Presiden Trump, serta negara-negara yang terlibat dalam proses negosiasi.

“Kami telah menguji pemerintahan pendudukan dan tidak mempercayainya sedetik pun,” katanya.

Menurutnya, tujuan utama Hamas adalah mewujudkan aspirasi rakyat Palestina untuk mencapai stabilitas, kebebasan, dan kedaulatan negara sendiri.

Baca Juga:Uni Eropa Pertimbangkan Tarif 50 Persen untuk Impor Baja Global, Industri Inggris Terancam Rugi BesarRibuan Warga Sudan Mengungsi Akibat Banjir Parah di Kota Bahri

“Perang harus diakhiri selamanya agar rakyat Palestina dapat hidup dalam stabilitas seperti bangsa-bangsa lain di kawasan ini.” ujarnya.

Pada hari yang sama, Hamas dan Israel melanjutkan perundingan tidak langsung hari kedua di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, yang terletak di tepi Laut Merah. Pembahasan difokuskan pada upaya mencapai gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan sesuai dengan rencana Trump.

0 Komentar