JABAR EKSPRES – Kota Cimahi tengah menghadapi darurat kekerasan seksual. Sepanjang Januari hingga September 2025, tercatat sedikitnya 56 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, mayoritas berupa kekerasan seksual.
Ironisnya, sebagian besar pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban, mulai dari anggota keluarga, tetangga, hingga guru.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi, Fitriani Manan, menegaskan bahwa tren ini menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Baca Juga:PSG Tundukkan Barcelona Lagi! Luis Enrique Puji Semangat Juang Anak AsuhnyaLiverpool Krisis Jelang Duel Kontra Chelsea, Alisson dan Ekitike Dipastikan Absen
“Sebetulnya kalau saya katakan, Indonesia saat ini mengalami kegawatan, kedaruratan seksual. Kasus kekerasan seksual memang meningkat, dan biasanya pelaku itu orang terdekat. Bisa keluarga, paman, kakek, guru, penjaga sekolah, bahkan pemilik warung tempat anak-anak jajan,” ujarnya saat diwawancarai Jabar Ekspres, Kamis (2/10/25).
Mengantisipasi maraknya kekerasan seksual, Pemkot Cimahi membentuk Satgas Pencegahan di Satuan Pendidikan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan.
Melalui satgas ini, guru dapat langsung melaporkan kasus kepada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).
Selain itu, DP3AP2KB juga rutin melakukan sosialisasi dan asesmen ke sekolah. Hasilnya, banyak anak maupun orang tua yang kemudian berani melapor setelah mendapatkan informasi.
Upaya lain dilakukan melalui Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di tingkat kelurahan serta Forum Generasi Berencana (Genre) yang bertugas sebagai pendamping sebaya di SMP dan SMA.
“Untuk anak-anak TK dan SD, sosialisasi berbeda. Kami ajarkan kesehatan reproduksi, mana bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain. Minimal anak-anak tahu, sehingga berani bercerita kepada ibunya jika mengalami sesuatu,” jelas Fitriani.
Fitriani juga menyoroti ancaman lain yang kian mengkhawatirkan, yakni love scamming atau penipuan berkedok percintaan melalui media sosial dan aplikasi pencari jodoh seperti Omi.
Baca Juga:Drama Detik Terakhir: Launching Nama Baru Stasiun Cirebon Mendadak Dibatalkan, BT Batik Trusmi Kecewa BeratMbappe Akui Tak Puas Meski Cetak Hat-Trick saat Madrid Pesta Gol ke Gawang Kairat Almaty
“Love scamming itu cukup berbahaya. Anak-anak remaja perempuan, apalagi yang kecanduan media sosial, rawan jadi korban. Mengawasinya memang susah, tapi kami berkoordinasi dengan Diskominfo untuk membatasi akses ke situs pornografi dan aplikasi rawan,” katanya.
Meski begitu, ia menegaskan pengawasan digital saja tidak cukup. Peran keluarga, terutama orang tua dan ayah, sangat penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
