JABAR EKSPRES – Masalah bau menyengat dan limbah kotoran ayam dari peternakan milik PT Agro Budi di Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kembali menjadi sorotan warga.
Keluhan ini terus disuarakan oleh masyarakat yang tinggal di Perumahan Bumi Indah Parahyangan (BIP) karena dinilai mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan sekitar.
Meski begitu, DPRD KBB memilih memberi kelonggaran kepada pihak pengusaha untuk memperbaiki pengelolaan limbah.
Baca Juga:PR Berat Pengolahan Limbah Domestik di Cimahi, 20 Ribu Rumah Masih Tanpa SeptictankPabrik Bolu Coy Kembali Disidak DLH, Tapi Masih Buang Limbah, Ada Apa?
Ketua Komisi III DPRD KBB, Pither Djuandys, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan bau tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, pihak pengusaha sudah berjanji melakukan perbaikan setelah sebelumnya terkendala overload limbah dan kerusakan armada pengangkut.
“Pada prinsipnya masyarakat RT, RW, dan desa sudah pernah musyawarah. Tapi masih ada persoalan bau dari peternakan PT Agro Budi, dan juga DLH tidak melakukan penyegelan. Itu yang dilampirkan dalam surat masyarakat ke DPRD,” ujar Pither, Rabu (1/10/2025).
Ia menyebut, saat ini kondisi sudah berangsur normal karena armada pengangkut limbah kembali beroperasi. Namun, ia menyoroti pentingnya penataan ulang pengelolaan air limbah agar tidak menimbulkan masalah baru.
“Bau itu kan tergantung arah angin. Tapi saya lihat di lokasi pembuangan limbah sebenarnya adem-adem saja, hanya saja pengelolaan airnya yang perlu dibenahi,” katanya.
Pither menegaskan, DPRD akan berkoordinasi dengan pengusaha peternakan, camat, hingga Dinas PUTR dalam waktu satu bulan untuk memastikan solusi teknis dapat segera dijalankan.
“Saya mendorong agar kajian lingkungan segera dilakukan dan ada kepastian. Satu bulan saya harus mendapat hasil. Saya tidak mau main-main soal ini,” tegasnya.
Di sisi lain, sejumlah petani penggarap di kawasan BIP mengaku merugi akibat lahan pertanian mereka tercemar limbah kotoran ayam.
Baca Juga:DLH KBB Batalkan Rencana Penutupan Pengelolaan Limbah PT Agro Budi Jaya, Ini Alasannya!
Entis (55), petani penggarap cabai, menyebut dari lahan setengah hektar yang dikelolanya, hanya seperempat hasil panen yang bisa diselamatkan.
“Kerugian besar, masih dihitung. Hasil tani cengek lagi bagus-bagusnya malah kelimpahan kotoran ayam. Bukan bagus malah rusak dan mati,” ucapnya.
Selain kerugian pertanian, warga juga mengeluhkan dampak lingkungan yang lebih luas. Limbah disebut mengalir ke Sungai Cimeta, menimbulkan bau menyengat, dan memicu serbuan lalat ke rumah-rumah warga.
