Jaga Kepercayaan Emak-Emak, SPPG Karyawangi Buka Layanan Pengaduan

Petugas SPPG Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat memberikan edukasi gizi dan standar pengolahan ma
Petugas SPPG Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat memberikan edukasi gizi dan standar pengolahan makanan kepada puluhan orangtua siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Minggu (28/9). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) Karyawangi membuka call center khusus aduan bagi orangtua siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah ini ditempuh sebagai bentuk komitmen menjaga kualitas makanan sekaligus menampung aspirasi pasca insiden keracunan massal yang melanda 2 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kepala SPPG Karyawangi, Arlan Hadi, menuturkan layanan aduan ini akan menjadi saluran komunikasi langsung antara pihak penyedia makanan dengan orangtua siswa. Melalui mekanisme ini, setiap keluhan, kritik, maupun saran dapat segera ditindaklanjuti.

Baca Juga:Bantu Penerangan Masyarakat Pra-sejahtera, UPI Hadirkan Program Listrik Mandiri Rakyat di Desa Sukaresmi KBBTiang Internet Tanpa Izin Berjejer Jalan Purnomosidi, Pemkot Banjar Akan Tindak

“Kami sediakan call center agar orangtua bisa langsung menyampaikan kendala atau kritik. Ini wujud komitmen kami menjaga kualitas makanan dan berdiskusi terbuka dengan orangtua,” ungkap Arlan saat ditemui, Minggu (27/9/2025).

Kasus keracunan massal bermula pada Senin (22/9/2025), saat belasan siswa SMK Pembangunan Bandung Barat dilarikan ke Puskesmas Cipongkor usai mengonsumsi paket menu MBG.

Sehari kemudian, jumlah korban bertambah dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP/MTs, hingga SMA/sederajat yang mendapat suplai makanan dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cipari.

Puncak kasus terjadi pada Rabu (24/9/2025), ketika ratusan warga kembali mengalami gejala keracunan. Kali ini berasal dari SPPG Neglasari di Kecamatan Cipongkor.

Pada hari yang sama, gelombang keracunan ketiga muncul di Kecamatan Cihampelas dengan korban lebih beragam, mulai dari siswa, guru, hingga orang tua dan ibu menyusui.

Menanggapi situasi itu, SPPG Karyawangi menegaskan memperketat proses baik pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga kecepatan distribusi kepada 3.434 siswa di 23 sekolah di wilayah Kecamatan Parongpong.

SPPG Karyawangi juga berani membuka bagaimana proses pemilihan bahan baku, pengolahan masakan dengan melibatkan chef profesional, dan memperhatikan waktu distribusi demi menjaga kwalitas makanan dan mencegah tragedi keracunan.

Baca Juga:Wagub Jateng Targetkan 50 Persen  Penyandang Difabel Bisa Menikmati Program Kecamatan Berdaya pada 2026Kualitas Air Cimahi Memburuk, DLH Tegaskan Limbah Domestik Jadi Penyumbang Utama Pencemaran

“Seminggu ini kita memangvsedang fokus sosialisasi kepada orangtua siswa secara berkala. Sedikitnya sudah 9 sekolah yang orangtuanya teredukasi dan mengizinkan anaknya menerima MBG dari kami,” papar Arlan.

Dalam kegiatan tersebut, Arlan memaparkan standar operasional dapur (SOP), transparansi proses pengolahan, serta edukasi mengenai kandungan gizi MBG dan potensi bakteri yang bisa muncul jika makanan tidak dikelola sesuai standar.

0 Komentar