JABAR EKSPRES – Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat (Jabar), mengaku kini telah memeriksa sebanyak 208 sampel Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab utama dalam kasus keracunan massal.
Dikatakan Kepala Labkesda Jabar Ryan Bayusantika, 208 sampel MBG tersebut didapat dari 27 frekuensi yang dikirim dari 12 Kabupaten/kota.
“(Untuk sampelnya) Itu adalah sisa-sisa makanan dari sekolah dan juga dari dapur MBG seperti nasi, sayur-sayuran, daging-dagingan, dan juga sayuran yang sudah diolah seperti lotek,” ujarnya, Sabtu (27/9).
Baca Juga:Legislator Dorong Penguatan Pengawasan, Buntut Kasus Keracunan MBG di JabarRamai Dugaan Keracunan Program MBG di Pangalengan, Faktanya Tidak Benar
Ryan menambahkan, dalam hasil pemeriksaannya, 208 sampel MBG dari 27 frekuensi yang dikirim oleh 12 Kabupaten/kota tersebut, menunjukkan bahwa seluruhnya mengandung bakteri pembusuk seperti Salmonella dan Bacillus cereus.
“Kami periksanya dari laboratorium mikrobiologi dan juga kimia lingkungan. Nah dari laboratorium mikrobiologi, hasil positifnya itu dari bakteri-bakteri pembusuk memang yang paling banyak didominasi oleh Salmonella dan juga satu lagi adalah Bacillus cereus. Sementara kalau dari lingkungannya atau dari kimianya, yang positif adalah nitrit. Tapi memang persentasenya kecil dibandingkan dengan hasil negatifnya,” ungkapnya.
Ryan menjelaskan, bakteri pembusukan tersebut dapat dipicu oleh beberapa faktor salah satunya seperti air yang digunakan.
“Karena resiko yang pertama tentu dari medianya seperti air misalnya. Nah Air itu memang harusnya bersih. Lalu dari penjaja (penyedia) makanannya, itu juga harus betul-betul menyiapkan segala sesuatunya mulai dari kebersihan tangan, memakai peralatan untuk proses. Lalu bahan makan yang harus segar tidak boleh digunakan sama sekali bahan-bahan kadaluarsa maupun rusak,” ungkapnya.
“Lalu setelah jadi makanan itu ada regulasinya. Nah seharusnya makanan yang sudah jadi itu disimpan di atas suhu 60 derajat celsius atau di bawah 5 derajat celsius. Dan itu pun kalau disimpan di suhu ruangan itu tidak boleh di atas 6 jam, nanti akan tumbuh bakteri-bakteri pembusuk tadi,” imbuhnya.
Diketahui, kasus keracunan masal akibat santapan MBG di sejumlah wilayah di Jawa Barat, kini telah menjadi perhatian publik.
Seperti halnya Kabupaten Bandung Barat (KBB), hingga kini berdasarkan data yang himpun, korban akibat santapan MBG yang dibagikan ke setiap sekolah tersebut telah mencapai hingga sebanyak 1.300 orang lebih.(San).
