Oleh: Lidya Srinita Ginting
DI sebuah desa di Jawa Barat, hampir setiap hari ada pasien sepuh yang datang ke klinik tempat saya bekerja. Mereka datang dengan wajah penuh harap, sering kali berkata lirih, “Bu, saya mau diperiksa dokter, tapi saya tidak punya HP untuk daftar online…”. Ada pula yang kebingungan karena anak atau cucunya tidak tinggal bersama mereka, sehingga tak ada yang membantu mengakses aplikasi registrasi.
Pemandangan sederhana ini membuka mata: di balik wacana besar digitalisasi kesehatan lewat Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), ada realita masyarakat yang masih kesulitan sekadar menekan tombol pada layar ponsel.
Harapan di Balik SIMRS
Secara konsep, SIMRS adalah terobosan penting. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan seluruh layanan rumah sakit, mulai dari pendaftaran pasien, rekam medis elektronik, farmasi, keuangan, hingga pelaporan ke pemerintah melalui BPJS dan SATUSEHAT. Tujuannya jelas: menciptakan layanan kesehatan yang efisien, akurat, transparan, dan cepat.
Baca Juga:Legislator NasDem Dorong HJKB 215 Jadi Momentum Perkuat Kualitas Pendidikan di BandungAntrean Riang di SMA Negeri 11 Bandung: Cerita di Balik Program Makan Bergizi Gratis
Tidak heran jika Kementerian Kesehatan mewajibkan setiap rumah sakit menerapkan SIMRS, sebagaimana tertuang dalam Permenkes No. 82 Tahun 2013. Namun, pertanyaan kritisnya: apakah SIMRS sudah benar-benar siap dijalankan menyeluruh hingga pelosok?
Tantangan di Lapangan
1. Infrastruktur Digital yang Belum MerataBanyak rumah sakit di daerah masih kesulitan dengan akses internet, listrik yang tidak stabil, bahkan perangkat komputer yang terbatas. Tanpa fondasi ini, SIMRS sulit berjalan optimal.
2. Literasi Digital yang RendahBagi sebagian pasien, terutama di desa, pendaftaran online terasa lebih sulit daripada antre langsung. Ada yang tidak bisa membaca dengan lancar, ada pula yang bahkan tidak memiliki ponsel pintar.
3. Generasi Tua yang TertinggalPasien lanjut usia adalah kelompok yang paling terdampak. Mereka tidak terbiasa dengan aplikasi digital dan sering bergantung pada anak atau cucunya. Jika tinggal sendiri, mereka rawan kehilangan akses ke layanan kesehatan.
4. Tenaga Kesehatan yang Belum SiapTidak semua tenaga medis terbiasa dengan pencatatan digital. Bagi sebagian perawat atau dokter, perubahan ke SIMRS terasa rumit dan justru menambah beban kerja jika tidak didampingi dengan pelatihan.
