JABAR EKSPRES – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih menunggu hasil laboratorium terkait penyebab pasti kasus keracunan massal yang menimpa ribuan siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Diketahui, sebelumnya para siswa menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan pemerintah. Rentetan kejadian berlangsung sejak Senin (22/9) hingga Rabu (24/9), dengan jumlah korban terus bertambah hingga ribuan orang.
Plt Kepala Dinas Kesehatan KBB, Lia N. Sukandar, mengatakan pihaknya langsung mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas). Pengujian dilakukan guna memastikan kandungan zat yang menyebabkan para siswa mengalami gejala keracunan.
Baca Juga:Kuota 8 Persen Suporter Timnas Indonesia di Arab Saudi Tak IdealTerungkap! Alasan Mees Hilgers dan Marselino Tak Dipanggil Timnas Indonesia, Ternyata…
“Uji laboratorium berkoordinasi dengan Labkesmas. Hasilnya biasanya lebih cepat, sekitar lima hari. Jadi besok Jumat mudah-mudahan sudah keluar,” kata Lia saat dikonfirmasi, Jumat (26/9/2025).
Menurut Lia, sampel yang dibawa ke laboratorium tidak hanya berupa makanan, tetapi juga muntahan dari beberapa pasien. Hal itu dilakukan karena pada hari pertama kejadian tidak banyak sisa makanan yang bisa diambil petugas.
“Saat kejadian karena kami ada di lokasi, jadi kami mengambil muntahan pasien sebanyak dua kantong. Itu juga diuji di Labkesmas,” jelasnya.
Adapun untuk kasus keracunan yang terjadi pada Rabu (24/9), Dinkes berhasil mendapatkan sisa makanan dari dua dapur penyedia MBG, yaitu dapur Pasir Saji di Desa Neglasari, Kecamatan Cipongkor, serta dapur Mekarmukti di Kecamatan Cihampelas.
“Pas hari Rabu kami ada sisa makanan, jadi itu yang diambil untuk diperiksa. Mungkin hasilnya baru bisa keluar hari Senin depan,” ujarnya.
Selain menunggu hasil laboratorium, Dinkes KBB juga terus melakukan pemantauan kesehatan terhadap para siswa yang terdampak. Petugas medis disiagakan di sejumlah posko kesehatan, terutama di Cipongkor dan wilayah lainnya yang banyak melaporkan kasus keracunan.
Lia menegaskan, seluruh pasien ditangani secara intensif, mulai dari pemberian obat hingga perawatan lanjutan bagi yang mengalami gejala berat.
Baca Juga:Persib Siap Tempur Lawan Persita, Hodak Optimistis Tren Positif BerlanjutRealisasi FLPP di Jawa Tengah Mencapai 15.414 unit Rumah, Program 3 Juta Rumah Terus Digenjot
“Kami memastikan kondisi anak-anak tetap dipantau sampai benar-benar pulih,” katanya.
Hingga kini, Dinkes KBB belum bisa memastikan sumber utama penyebab keracunan. Namun, hasil laboratorium diharapkan dapat memberikan gambaran jelas mengenai kandungan makanan yang dikonsumsi siswa.
