JABAR EKSPRES – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciamis semakin meneguhkan komitmennya sebagai garda terdepan dalam penanganan penyakit menular di wilayah Priangan Timur. Salah satu fokus utama yang terus dikuatkan adalah layanan komprehensif untuk pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO), sebuah bentuk TB yang tidak lagi responsif terhadap pengobatan lini pertama. Layanan yang terintegrasi ini mencakup pemeriksaan diagnostik cepat, penyediaan fasilitas isolasi yang aman, hingga pemberian obat terbaru dengan durasi pengobatan yang lebih singkat, menandai era baru penanganan TB yang lebih efisien dan efektif.
Direktur RSUD Ciamis, dr. Bayu Yudiawan, menekankan bahwa inovasi dan penguatan layanan ini tidak hanya berorientasi pada kesembuhan individu pasien, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas bagi kesehatan masyarakat. Tujuannya adalah memutus mata rantai penularan penyakit yang memiliki tingkat risiko tinggi ini.
“TB RO adalah penyakit dengan tingkat risiko tinggi, sehingga penanganannya harus segera, aman, dan menyeluruh. Mulai dari diagnosis cepat, isolasi bertekanan negatif, hingga regimen obat baru, semuanya diarahkan agar pasien lebih cepat pulih sekaligus mengurangi risiko penularan,” ungkapnya Kamis, (25/9/2025)
Baca Juga:Kasus TBC di Bandung Turun, Pemkot Fokus Perluas SkriningRelawan Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates Bakal Dapat Bansos Rp150 Ribu, ini Faktanya
Langkah pertama dalam rantai layanan terintegrasi ini adalah mempercepat diagnosis. RSUD Ciamis telah mengandalkan Tes Cepat Molekuler (TCM) sebagai alat diagnostik utama. Dengan TCM, status pasien dapat diketahui dengan cepat, apakah kuman TB yang diidap masih sensitif terhadap obat standar atau sudah berkembang menjadi resistan. Kecepatan dan akurasi hasil TCM ini menjadi landasan kritis bagi tim medis untuk menentukan regimen pengobatan yang paling tepat sejak dini, sehingga menghindari keterlambatan penanganan yang dapat memperparah kondisi pasien.
Setelah diagnosis TB RO ditegakkan, prinsip keselamatan menjadi prioritas. Untuk pasien yang memerlukan perawatan inap, rumah sakit ini telah menyiapkan ruang isolasi bertekanan negatif khusus. Ruangan ini didesain dengan sistem sirkulasi udara yang dapat mencegah mikroorganisme, termasuk kuman TB, keluar dari ruangan dan menyebar ke area lain di rumah sakit.
Sementara bagi pasien rawat jalan, RSUD Ciamis menyediakan poliklinik khusus yang terpisah dari poliklinik umum. Pemishaan ini bertujuan meminimalisir interaksi antara pasien TB RO dengan pengunjung atau pasien lain, sehingga risiko penularan silang dapat ditekan secara signifikan. “Prinsip utama kami adalah memberi pelayanan yang tetap manusiawi, namun tetap menjaga keselamatan pasien lain,” tambah dr. Bayu.
