Salah seorang warga terdampak, Neneng Siti Kulsum (53), mengaku kehidupannya berubah drastis akibat penggusuran. Selama lebih dari 40 tahun, ia tinggal di pinggir Situ Ciburuy sekaligus menjalankan usaha penampungan rongsokan untuk menghidupi keluarga.
“Kami paham tanah ini milik pemerintah dan siap pindah. Namun kami minta aparat membantu menyediakan tempat sewa sementara dan penyimpanan barang. Jangan bongkar rumah yang masih ada penghuninya,” ujarnya dengan nada getir.
Neneng mengaku mendukung rencana penataan dan pengembangan wisata Situ Ciburuy. Namun, ia menegaskan proses relokasi tidak bisa dilakukan secepat pemerintah menghendaki.
Baca Juga:PGN Ajak Jurnalis Naik Taksi BBG dalam Roadshow AJP 2025 Teritori JatimbalinusKapolresta Bandung Resmi Jadi Dewan Penasehat dan Bapak Angkat Komunitas Ojol Samawana Jabar
Warga kecil seperti dirinya hidup dari usaha harian, sehingga membutuhkan bantuan lebih untuk pindah secara layak.
“Kami bekerja hari ini untuk makan hari ini. Kalau harus pindah, kami butuh bantuan, terutama tempat sewa rumah sementara dan tempat penyimpanan barang,” katanya.
Ia juga meminta agar rumah yang masih berpenghuni tidak langsung dirobohkan.
“Kalau rumah belum kosong, jangan dirobohkan dulu. Kami perlu waktu dan bantuan agar bisa beranjak dengan layak,” pungkas Neneng. (Wit)
