Dua wilayah tersebut adalah penghasil utama yang menyumbang sekitar 80 persen produksi kemenyan dunia.
Direktur IKM KSK Budi Setiawan mengatakan koordinasi tersebut bertjuan untuk memetakan kondisi lapangan, mulai dari jenis tanaman, proses penyulingan, rantai pasok, hingga pembinaan yang telah berjalan.
“Dengan begitu, kami dapat mengidentifikasi aspek yang perlu diperkuat melalui program pembinaan Kemenperin,” katanya.
Baca Juga:Gelontorkan Rp65,5 Miliar, BSI Fasilitasi Mahasiwa Unggulan Daerah Masuk Kampus Top IndonesiaPutra 2 BPK Penabur Bandung Amankan Kemenangan di DBL Bandung 2025, Usai Dua Kali Overtime
Ditjen IKMA kedepannya akan melibatkan lebih banyak pihak untuk penguatan ekosistem hilirisasi kemenyan, termasuk satuan kerja Kemenperin, kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, hingga asosiasi.
“Dengan dukungan kebijakan yang tepat, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi IKM, pengolahan minyak atsiri dari kemenyan akan menjadi penggerak baru hilirisasi berbasis nilai tambah lokal yang siap menembus pasar global,” ujarnya.
Kemenyan dari Tapanuli Utara pada 2025 telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum.
Hal ini juga membuktikan karakteristik, kualitas, dan reputasi kemenyan asal daerah tersebut, sekaligus memberikan perlindungan hukum dan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat.
