JABAR EKSPRES – Keberhasilan Kampung Adat Kuta di Ciamis, Jawa Barat, dalam mengelola 1.000 pohon aren produktif secara berkelanjutan menarik perhatian nasional.
Keberadaan kawasan yang juga dikenal sebagai ‘Kampung Seribu Pantangan’ ini bahkan mendapat pujian langsung dari Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni yang melakukan kunjungan kerja dan memilih untuk menginap di rumah penduduk guna merasakan langsung kehidupan masyarakat adat.
Kampung Adat Kuta, yang terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, bukan hanya sekadar permukiman biasa. Kampung ini adalah sebuah permata budaya yang hidup, di mana masyarakatnya masih memegang teguh berbagai larangan adat atau ‘pamali’ yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga:Cinta Maura Islami Kasih Jadi Sorotan di Azarine DBL Dance Competition 2025 West Java-EastAthari Dhiaurrahman, Roster Andalan Smansa Sekaligus Jaka Utama Kota Cirebon 2025
Larangan-larangan inilah yang justru menjadi fondasi kokoh bagi pelestarian alam di sekitarnya. Setiap jengkal tanah, pepohonan, dan terutama mata air, dijaga dengan sungguh-sungguh sebagai sumber kehidupan yang tak boleh dieksploitasi secara berlebihan.
Salah satu wujud nyata dari kearifan lokal tersebut adalah pengelolaan 1.000 pohon aren yang dimanfaatkan secara merata oleh masyarakat. Setiap keluarga di kampung adat tersebut mengelola rata-rata tujuh pohon aren. Setiap pohon aren mampu menghasilkan nira (cairan manis dari bunga aren) sekitar 10 hingga 15 liter per hari. Nira yang disadap secara tradisional dan bijaksana ini kemudian diolah menjadi gula aren.
Dengan tingkat produksi yang stabil, setiap pohon mampu menghasilkan sekitar 9 hingga 21 kilogram gula aren per hari. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi yang signifikan bagi keluarga-keluarga di Kampung Adat Kuta, tetapi juga dilakukan dengan prinsip-prinsip yang tidak merusak kelestarian pohon dan lingkungan sekitarnya. Praktik inilah yang membuat Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni takjub.
Dalam kunjungannya yang didampingi oleh Sekjen Kemenhut Mahfudz dan Penasihat Utama Menteri bidang Lingkungan dan Ekologi Willie Smits, Menhut menyatakan bahwa Kampung Adat Kuta adalah cerminan nyata dari pengelolaan perhutanan sosial dan praktik mitigasi perubahan iklim. “Kampung Adat Kuta ini sudah mencerminkan bagaimana mitigasi perubahan iklim yang nyata,” ujar Raja Antoni saat berdiskusi dengan penduduk setempat.
