JABAR EKSPRES – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengakui bahwa higienitas dan sanitasi masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hal tersebut disampaikannya menanggapi banyaknya kasus dugaan keracunan makanan massal yang menimpa ratusan pelajar di berbagai daerah.
“Memang itu satu hal yang masih terjadi dan kita usahakan supaya tidak ada kejadian. Menurut laporan Kompas, ada sekitar 4.000 terdampak,” kata Dadan saat ditemui usai meninjau dapur SPPG di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Selasa (9/9).
Baca Juga:Biar Kulit Halus Lagi, Ini 7 Cara Sederhana Atasi Pori-Pori MembandelMerefleksikan Tema Haornas 2025 ‘Olahraga Satukan Kita’ ala DBL Indonesia
Meski demikian, ia menekankan bahwa jumlah kasus tersebut sangat kecil dibandingkan total produksi makanan SPPG yang sudah berjalan.
“Jangan lupa, BGN sampai sekarang sudah memasak 660 juta porsi makan. Dari jumlah itu, 660 juta dimakan dengan aman dan sehat. Memang masih ada 4.000 porsi yang menimbulkan sakit kepada anak, tapi kita sedang usahakan agar itu tidak terjadi lagi,” jelasnya.
Dadan menambahkan, BGN kini memperketat koordinasi dengan berbagai pihak guna mengantisipasi kejadian serupa.
“Kita sekarang berkoordinasi secara intens, terutama dengan pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, BPOM, dan sebagainya, untuk sama-sama ikut mengawasi program ini agar tidak lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Diketahui juga, dugaan keracunan terjadi di SDN Legokhayam Kecamatan Cilengkrang beberapa waktu lalu. Sebanyak 12 siswa dilaporkan mengalami gejala sakit perut dan mual usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
