Ia selalu melalui proses sesuai prosedur, mulai dari pemeriksaan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), mendapat rujukan, hingga penjadwalan perawatan di rumah sakit.
“Saya jalani semua prosedurnya. Pelayanannya rata-rata sama baiknya. Saya sudah dirawat di tiga rumah sakit berbeda di Bandung, dan semuanya profesional. Tidak ada perbedaan antara pasien BPJS dan pasien umum. Semua diperlakukan setara,” jelasnya.
Pengalaman itu semakin menegaskan bahwa JKN memberikan kesetaraan layanan tanpa diskriminasi.
Baca Juga:Kisah Inspiratif Lia Juliani, Hidup Sederhana tapi Konsisten Bayar BPJS Kesehatan Demi Keluarga BPJS Kesehatan Bandung Perkuat Transformasi Digital FKRTL: Fokus pada Bridging hingga Rekam Medis Elektronik
Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa program jaminan kesehatan ini benar-benar bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pesan untuk Masyarakat: Jangan Tunda Daftar JKN
Berkecimpung lama di dunia kesehatan membuat dr. Dedi paham teori pentingnya perlindungan kesehatan.
Namun, baru setelah dirinya menghadapi penyakit serius, ia benar-benar merasakan betapa krusialnya memiliki jaminan kesehatan.
“Terima kasih kepada BPJS Kesehatan. Karena dengan adanya program ini, saya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan akhirnya pulih. Saya yakin banyak masyarakat juga merasakan manfaat yang sama,” ucapnya.
Menutup perbincangan, ia berpesan agar masyarakat tidak menunda untuk menjadi peserta JKN.
Menurutnya, sakit bisa datang kapan saja tanpa bisa diprediksi.
“Jangan pernah menunda mendaftar atau mengaktifkan kembali kepesertaan JKN. Kesehatan itu mahal, dan kita tidak tahu kapan akan sakit. Dengan JKN, kita bisa merasa lebih tenang karena negara hadir melalui BPJS Kesehatan,” pungkas dr. Dedi.
