JABAR EKSPRES – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi tantangan kesehatan di Kabupaten Bandung, karena tingkat kejadian cukup tinggi dan terus mengancam.
Hingga pertengahan 2025, Jawa Barat mencatat 17.281 kasus DBD, menempatkan provinsi ini sebagai wilayah dengan kasus tertinggi di Indonesia.
Di tingkat lokal, Kota Bandung menduduki peringkat kedua nasional dengan 1.475 kasus, sementara Kabupaten Bandung berada di peringkat ketiga dengan 1.465 kasus.
Baca Juga:Heboh Penemuan Lima Mayat Terkubur dalam Rumah di IndramayuPengmas Dosen Fakultas Keperawatan BKU di Cikawao: Edukasi Hipertensi dan Inovasi Pangan Sehat
Kondisi ini menunjukkan bahwa DBD masih menjadi masalah serius yang perlu diwaspadai, termasuk di Desa Cibeet, Kecamatan Ibun, Bandung, yang rawan genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Untuk itu, dosen Universitas Bhakti Kencana (UBK) berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Kelompok 22 melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Cibeet.
Kegiatan ini terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu penyuluhan kesehatan dan pelatihan keterampilan berbasis potensi lokal.
Pada sesi penyuluhan, hadir empat dosen sebagai pemateri dengan topik yang beragam.
Ade Tika Herawati, S.Kep., Ns., M.Kep, ketua kegiatan pengabdian kepada masyarakat, menyampaikan materi, “Penyuluhan dan Penanganan DBD pada Orang Dewasa”.
“Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mendadak selama 2–7 hari, disertai gejala seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, muncul bintik merah pada kulit.” ujar Ade, ketua kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
“Pada kondisi terentu disertai dengan adanya perdarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah. Pada kondisi berat, DBD dapat menyebabkan syok Hipovolemia akibat panas tinggi dan kekurangan cairan ini berisiko mengancam jiwa” tambah Ade.
Baca Juga:Menkomdigi Sebut Fitur Live Mati Saat Demo Bukan Arahan Pemerintah, TikTok SukerelaUsai Rumahnya Dijarah Massa, Sri Mulyani Buka Suara
Sementara, Yuyun Sarinengsih, S.Kep., Ns., M.Kep membawakan materi, “Penyuluhan dan Penanganan DBD pada Anak”.
Dari sisi peran komunitas, Imam Abidin, S.Kep., Ns., M.Kep memaparkan, “Pengendalian DBD dari Segi Kemasyarakatan: Peran Masyarakat dan Puskesmas”.
Lalu, Cucu Rokayah, S.Kep., Ns., M.Kep menekankan pentingnya, “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): Kebersihan Lingkungan sebagai Upaya Pencegahan DBD”.
