Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan BMKG, Badan Geologi, serta lembaga riset untuk memperkuat sistem peringatan dini dan komunikasi darurat lintas wilayah Bandung Raya.
Meski berbagai langkah mitigasi sudah dilakukan, BPBD KBB, dikatakan Meidi masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya distribusi informasi kebencanaan yang belum merata hingga ke desa-desa terpencil.
“Sejauh ini tantangan yang masih dihadapi adalah informasi kebencanaan belum sepenuhnya sampai ke masyarakat pelosok. Padahal, mereka juga termasuk kelompok yang rentan terdampak,” jelas Meidi.
Baca Juga:Acil Bimbo Tutup Usia, Bandung Berduka Kehilangan Putra TerbaiknyaTokoh Agama dan Masyarakat di Jateng Serukan Kedamaian untuk Negeri
Meidi mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperkuat ikhtiar spiritual dengan berdoa menurut keyakinan masing-masing.
“Selain meningkatkan kesiapsiagaan, mari kita juga memanjatkan doa. Bagi yang muslim perbanyak shalawat, dan bagi pemeluk agama lain berdoa menurut keyakinannya masing-masing untuk keselamatan kita semua,” tandasnya.
Sekedar diketahui, Sesar Lembang merupakan patahan aktif sepanjang sekitar 29 kilometer yang membentang dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, hingga ke wilayah Cilengkrang, Kabupaten Bandung.
Potensi gempa dari sesar ini menjadi perhatian serius karena lokasinya dekat dengan kawasan padat penduduk, pusat pemerintahan, serta destinasi wisata.
Para ahli geologi memperkirakan gempa akibat aktivitas Sesar Lembang bisa mencapai magnitudo 6,5–7,0. Jika tidak diantisipasi, dampaknya dapat meluas hingga ke wilayah Kota Bandung, Cimahi, dan sekitarnya. (Wit)
