“Alhamdulillah, berawal dari permintaan sekolah, akhirnya kami jadikan program tetap. Dan sampai hari ini bisa terus berjalan,” ujarnya.
Dalam setiap kegiatan, jumlah relawan Tagana yang diterjunkan menyesuaikan kondisi, mulai dari lima hingga delapan personel. Namun, simulasi bencana tidak selalu dilakukan karena bergantung pada permintaan sekolah dan kondisi lapangan.
Lebih jauh, Ahmad menegaskan peran Dinsos bukan hanya pada tahap awal bencana, tetapi juga pasca bencana melalui trauma healing dan pemulihan psikososial.
Baca Juga:Pemkot Bandung Siapkan Kampung Bencana Antisipasi Mitigasi Sesar LembangWaspada Gempa Sesar Lembang, Pemkot Bandung Siapkan 6 Titik Evakuasi
“Contohnya saat gempa Cianjur. Kejadian gempa mungkin hanya beberapa detik, tapi dampak pasca nya jauh lebih lama. Di situlah peran Dinsos hadir,” katanya.
Dalam penanganan bencana di Cianjur, Dinsos Cimahi menurunkan hampir 20 personel untuk membantu pemulihan trauma korban.
Menurut Ahmad, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa kesiapan mental dan psikososial sama pentingnya dengan kesiapan fisik.
“Bencana tidak hanya soal kerusakan fisik, tapi juga bagaimana manusianya bisa pulih. Karena itu aparat kami terus diperbarui kemampuannya melalui pelatihan dan workshop agar siap menjalankan tugas kemanusiaan,” pungkas Ahmad. (Mong)
