Ia menambahkan, di jalur Sesar Lembang, alat pendeteksi getaran gempa telah terpasang di sejumlah titik, termasuk di Kecamatan Parongpong dan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Alat tersebut lanjut Mudrik, berfungsi merekam setiap getaran seismik dari aktivitas Sesar Lembang. Data yang terkumpul kemudian dianalisis sebagai dasar langkah mitigasi kebencanaan.
“Alat tersebut tidak serta-merta dapat menyelamatkan banyak nyawa karena keterbatasan waktu peringatan dini,” katanya.
Baca Juga:Ancaman Sesar Lembang Menguat, Masyarakat Bandung Merespons dengan Beragam SikapAncaman Aktivitas Sesar Lembang, Cimahi Perkuat Antisipasi Bencana
“EWS itu penting, tapi yang lebih penting adalah kesiapan masyarakatnya. Kalau masyarakat sudah siap, risiko bencana bisa ditekan,” sambungnya.
Diketahui, Sesar Lembang merupakan patahan aktif yang membentang di utara Bandung Raya. Patahan ini memiliki sejarah aktivitas tektonik yang cukup panjang dan diperkirakan berpotensi memicu gempa dengan magnitudo hingga 6,5–7 SR.
Dengan kepadatan penduduk yang tinggi di Bandung Raya, keberadaan Sesar Lembang menjadi salah satu ancaman kebencanaan serius di Jawa Barat.
“Oleh karena itu, sejumlah pihak termasuk para ahli berulang kali menekankan pentingnya mitigasi dan edukasi kebencanaan sebagai langkah antisipasi terbaik,” tandasnya. (Wit)
