Sementara itu, Ase Rukmantara mengapresiasi perhatian pemerintah daerah terhadap karya yang ia ciptakan.
Ia menegaskan bahwa lagu Karatagan Bandung Barat lahir dari kecintaan pada tanah kelahiran sekaligus wujud perjuangannya dalam membangun identitas daerah melalui seni budaya.
“Dasarnya cinta lemah cai. Ketika yang lain berjuang secara politik untuk mendirikan Bandung Barat, saya berjuang lewat seni budaya,” ujar Ase.
Baca Juga:Pasokan Gas ke Industri Kembali Normal, PGN Pastikan Distribusi 100% AmanBebas Tunggakan, Goyang Pendapatan
Ia menjelaskan bahwa lirik Karatagan Bandung Barat sarat dengan nilai spiritual, pendidikan, dan kebersamaan yang merepresentasikan doa serta harapan masyarakat terhadap pemimpin dan arah pembangunan daerah.
“Lagu ini kumpulan doa dan harapan rakyat. Saya ingin masyarakat Bandung Barat jadi insan yang nyantri, nyakola, dan berjiwa agamis. Ini bukan soal agama saja, tapi karakter pemimpin ke depan,” jelasnya.
Ase berharap, di bawah kepemimpinan Jeje Ritchie Ismail, karya tersebut benar-benar memperoleh perlindungan hukum dan diakui secara resmi sebagai milik masyarakat Bandung Barat.
“Dari dulu hanya dijanjikan saja soal hak cipta. Barangkali sekarang, di era Pak Jeje, bisa benar-benar diurus sampai tuntas,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pengakuan masyarakat jauh lebih penting dibanding status hukum semata. Menurutnya, lagu Karatagan Bandung Barat sudah menjadi milik bersama yang hidup dalam sanubari warga KBB.
“Yang penting masyarakat mengakui. Dari rakyat, aparat, sampai pejabat harus punya satu rasa, satu nyawa, satu cita-cita. Semoga dengan kepemimpinan yang amanah ini, budaya terus dijaga,” tandasnya. (Wit)
