5. Properti Sewa Produktif
Properti sewa seperti rumah kontrakan, ruko, atau apartemen bukan hanya tahan terhadap krisis, tetapi juga mampu menghasilkan arus kas rutin. Pada masa sulit ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, permintaan rumah kontrakan yang lebih terjangkau justru cenderung meningkat. Begitu pula ruko untuk usaha kebutuhan pokok, seperti kuliner, laundry, atau toko kelontong, relatif lebih aman dari gejolak ekonomi.
Kunci utama ada pada lokasi. Pilih properti yang berada di kawasan dekat pusat ekonomi, memiliki akses transportasi yang mudah, serta aman dari risiko bencana. Selain itu, pemilik properti juga harus siap mengelola dengan baik: melakukan perawatan, menangani keluhan penyewa, serta memastikan seluruh dokumen legalitas lengkap dan sah.
6. Komoditas Strategis Non-Energi
Komoditas strategis non-energi meliputi logam industri seperti nikel, tembaga, aluminium, hingga rare earth elements. Berbeda dengan emas, nilai logam industri terutama berasal dari penggunaannya di sektor industri global. Misalnya, nikel merupakan bahan utama baterai kendaraan listrik yang permintaannya terus meningkat seiring transisi energi dunia. Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar memiliki keuntungan strategis di bidang ini.
Baca Juga:13 Rahasia Orang Cina Mengelola Uang hingga Jadi KayaReview Kawasaki KLX 110R 2025: Motor Trail Pemula Desain Sporty Cocok untuk Belajar Offroad
Jika tidak memungkinkan membeli logam fisiknya, alternatif lain adalah berinvestasi melalui saham perusahaan tambang atau ETF berbasis komoditas. Saat inflasi tinggi atau pasokan global terganggu, harga logam industri dapat melonjak signifikan. Namun, perlu diingat bahwa fluktuasinya lebih tinggi dibanding emas, sehingga porsinya dalam portofolio sebaiknya tidak terlalu besar.
7. Mata Uang Asing yang Kuat
Dalam kondisi krisis, rupiah biasanya melemah akibat arus modal keluar dan menurunnya kepercayaan pasar. Oleh karena itu, memegang sebagian dana dalam mata uang asing yang kuat bisa menjadi pelindung nilai. Dolar Amerika Serikat (USD) tetap menjadi pilihan utama karena likuiditas dan stabilitasnya. Selain itu, Dolar Singapura (SGD) juga tergolong kuat karena didukung oleh ekonomi yang stabil dan inflasi rendah.
Menyimpan sebagian aset dalam bentuk valuta asing bukan hanya berfungsi sebagai lindung nilai, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan belanja impor, biaya pendidikan anak di luar negeri, atau investasi lintas negara. Simpanlah melalui rekening atau deposito valas di bank resmi, dan hindari menyimpan tunai dalam jumlah besar demi keamanan.
