JABAR EKSPRES – Ketika seseorang kehilangan orang yang disayangi, maka akan membuatnya menjadi lebih emosional. Fase emosional yang dialami seseorang yang sedih karena orang yang dicintainya meninggal, ternyata bisa dibedakan dalam beberapa ingkatan.
Berdasarkan literatur psikologi, kehilangan orang yang dicintai terutama yang berkaitan dengan kematian disebut dengan grief (berkabung/duka).
Kejadian yang menimpa orang yang berduka atau berkabung karena kehilangan pasangan, anak, orang tua, atau kerabat dekat, adalah salah satu pengalaman paling berat bagi kesehatan mental.
Baca Juga:Ketua Kadin Boni Anggara Apresiasi Kinerja Bupati, Dalam Peningkatan Perekonomian Daerah Terutama Pelaku UMKMCara Cepat Naikkan Jam Tayang YouTube Resmi Lewat Jasaiklanview.com
Menurut Model Kübler-Ross (1969) yang merupakan rujukan dari banyak jurnal psikologi klinis, secara umum, ada beberapa fase emosional yang dialami seseorang setelah kehilangan, fase ini biasa disebut dengan Five Stages of Grief, diantaranya :
1. Denial (Penolakan / Tidak Percaya)
Reaksi awalnya berupa syok, mati rasa, atau sulit menerima kenyataan. Pikiran seperti: “Tidak mungkin ini terjadi.”
Menurut jurnal Kübler-Ross (1969, On Death and Dying), fase ini adalah mekanisme pertahanan diri agar pikiran tidak runtuh total.
2. Anger (Marah)
Muncul rasa marah kepada keadaan, diri sendiri, bahkan kepada Tuhan. Dapat berupa perasaan “Mengapa dia harus pergi? Ini tidak adil.”
Penelitian (Archer, 1999 – The Nature of Grief) menyebutkan bahwa fase ini normal dan berfungsi sebagai pelepasan energi emosional yang tertekan.
3. Bargaining (Tawar-Menawar)
Berpikir seandainya bisa mengubah takdir. Contoh: “Andai saja aku lebih cepat membawanya ke rumah sakit…” Jurnal psikologi klinis menyebut ini sebagai fase “counterfactual thinking” (memikirkan alternatif lain dari kenyataan).
4. Depression (Depresi / Kesedihan Mendalam)
Perasaan kehilangan yang dalam, menangis terus-menerus, merasa hampa, kehilangan minat hidup. Studi American Psychological Association (APA, 2013) menyebut fase ini mirip dengan gejala depresi mayor, tetapi sifatnya bisa sementara bila berproses normal.
5. Acceptance (Penerimaan)
Baca Juga:Konflik Bandung Zoo Kembali Memuncak: Karyawan Tuntut Perlindungan dan Akses Merawat Satwa Yang KelaparanOJK dan Pemprov Jabar Luncurkan Program Tabungan Kurban ASN "BEREHAN"
Individu mulai berdamai dengan kenyataan. Bukan berarti tidak sedih lagi, tetapi sudah bisa mengingat almarhum dengan lebih tenang dan melanjutkan hidup.
Sementara menurut Worden (2009, Grief Counseling and Grief Therapy), penerimaan adalah tahap penting menuju pemulihan.
