2 Persen Pelajar di Kota Bandung Obesitas, Kolaborasi Olahraga Jadi Solusi Pemkot

2 Persen Pelajar di Bandung Alami Obesitas, Farhan : Olahraga Kebugaran Bakal Diperluas
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat meresmikan Kantor BNN beberapa waktu lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kota Bandung kini menghadapi tantangan baru dalam dunia kesehatan masyarakat, terutama di kalangan usia muda.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Bandung menunjukkan bahwa 5,98% siswa (22.381 siswa) mengalami gizi lebih, dan 2,25% (8.560 siswa) mengalami obesitas.

Angka ini dinilai cukup mengkhawatirkan dan menjadi peringatan dini terhadap pola hidup masyarakat urban yang semakin minim aktivitas fisik.

Baca Juga:Atletico Madrid Incar Nico Gonzalez, Proyek Baru di Ujung Bursa TransferDrama Transfer Alexander Isak, Ketegangan Jelang Musim Baru Newcastle United

“Iya, memang sekarang ini obesitas menjadi salah satu ancaman. Satu dari pelajar di Kota Bandung itu mengalami obesitas. Jadi kita sebagai bapak-bapak harus mengurangi. Ayo tahan perut semuanya,” ujar Farhan, Jumat (15/8).

Menurutnya, pola konsumsi masyarakat yang tinggi kalori namun minim aktivitas fisik telah menjadi pemicu utama meningkatnya risiko obesitas, terutama di kalangan anak-anak sekolah yang banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan.

Menghadapi situasi ini, Pemkot Bandung tengah merancang strategi yang lebih menyeluruh. Salah satunya adalah memperkuat kolaborasi dengan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) guna memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan olahraga kebugaran di berbagai wilayah kota.

“Sebelum mengeluarkan himbauan, saya akan kerja sama dulu dengan KORMI untuk memastikan bahwa olahraga kebugaran itu merata di seluruh Kota Bandung,” katanya.

Farhan menilai pentingnya pendekatan yang membumi dan menyentuh langsung kehidupan warga, agar olahraga tidak hanya menjadi gaya hidup kelompok tertentu, tetapi menjadi bagian dari rutinitas masyarakat secara luas.

Lebih lanjut, Farhan juga menyinggung pentingnya memperhatikan aspek gizi dalam mengatasi obesitas. Namun, ia mengakui bahwa pendekatan dari sisi gizi masih belum maksimal dan membutuhkan strategi jangka panjang.

“Secara pendekatan gizi saya nggak bisa ngomong banyak ya, walaupun kita sekarang sudah mulai ada gerakan mengurangi gula. Tapi yang paling penting, kita harus memenuhi dulu masalah ketahanan pangan, dan patokannya itu masih beras,” ujarnya.

Baca Juga:Mandiri dan Berdaya, 2.000 Keluarga di Brebes Tamatkan Ketergantungan BansosRasmus Hojlund Semakin Dekat ke San Siro, AC Milan Siap Pulangkan Sang Striker ke Serie A

Farhan menekankan bahwa kebutuhan pokok masyarakat Bandung masih sangat bergantung pada beras, dan itu menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan pemerintah daerah.

Menurutnya, upaya memperbaiki pola makan harus diimbangi dengan pendekatan infrastruktur yang mendukung pergerakan fisik masyarakat.

0 Komentar