JABAR EKSPRES – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Rabu (13/8) mengeluarkan peringatan keras kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa akan ada “konsekuensi yang sangat berat” jika tidak bersedia mengakhiri perang di Ukraina. Ancaman ini disampaikan menjelang pertemuan puncak mereka yang dijadwalkan berlangsung di Alaska.
Saat ditanya apakah Rusia akan menghadapi dampak jika Putin tetap menolak mengakhiri konflik, Trump menjawab tegas,
“Mereka akan menghadapi konsekuensi yang sangat serius,” sambil menegaskan bahwa konsekuensinya akan sangat serius. Pernyataan tersebut ia sampaikan di Kennedy Center, Washington, D.C.
Baca Juga:Dricus du Plessis dan Khamzat Chimaev Saling Hargai Menjelang Duel UFC 319 di ChicagoMondo Duplantis Pecahkan Rekor Dunia Lompat Galah untuk ke-13 Kalinya di Budapest
“Saya akan menilainya 10, Anda tahu, sangat, sangat bersahabat,” katanya.
Komentar Trump muncul beberapa jam setelah dirinya mengikuti pertemuan virtual bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan sejumlah pemimpin Eropa, yang ia sebut sebagai pertemuan “sangat baik” dan menilainya “10 dari 10” dalam hal suasana persahabatan.
“Saya akan menilainya 10, Anda tahu, sangat, sangat bersahabat,” ujarnya.
Pertemuan tatap muka di Anchorage, Alaska, akan menjadi perjumpaan pertama Trump dengan Putin pada masa jabatan keduanya. Trump mengungkapkan kemungkinan besar pertemuan itu akan membuka jalan bagi pertemuan puncak trilateral antara dirinya, Putin, dan Zelenskyy.
Trump menjelaskan, jika pertemuan pertama berjalan lancar, ia ingin segera menggelar pertemuan kedua yang diharapkan lebih produktif. Agenda utama pertemuan di Alaska adalah untuk “menyiapkan panggung” bagi pertemuan trilateral, meskipun Trump mengakui tidak ada jaminan hal tersebut akan terjadi.
“Ada peluang sangat besar bahwa kita akan mengadakan pertemuan kedua yang akan lebih produktif dari yang pertama, karena pertemuan pertama ini akan saya gunakan untuk mengetahui posisi kita dan apa yang sedang kita lakukan,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika dari pertemuan awal tidak diperoleh jawaban yang memuaskan, maka pertemuan kedua tidak akan diadakan. Rencana pertemuan ini pertama kali diumumkan oleh Trump melalui platform Truth Social pada 8 Agustus lalu, dengan jadwal resmi pada Jumat, 15 Agustus 2025, di Alaska.*
SUMBER: ANTARA
