JABAR EKSPRES – Pemerintah Indonesia melihat peluang besar dalam kerja sama ekonomi dengan Peru setelah disepakatinya Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Peru (IP-CEPA).
Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan nilai perdagangan bilateral bisa melonjak hingga dua kali lipat, menembus angka 960 juta dolar AS atau sekitar Rp15,6 triliun (kurs Rp16.309 per dolar AS).
Total perdagangan antara Indonesia dan Peru pada tahun 2024 tercatat sebesar 480,7 juta dolar AS. Dari angka itu, ekspor Indonesia menyumbang 331,2 juta dolar AS, sementara impor dari Peru sebesar 149,6 juta dolar AS.
Baca Juga:Dorong Daya Saing Produk Lokal, Pemda Diminta Aktif Bantu UMKM Urus Sertifikasi HalalJalin Kerja Sama, RI Perluas Akses Ekspor Pertanian ke Amerika Latin Lewat Peru
“Nanti setelah implementasi CEPA berjalan, ya minimal dua kali lipat total perdagangan,” kata Budi dikutip dari ANTARA, Rabu (13/8/2025).
Menurut Mendag, meski nilai perdagangan CEPA dengan Peru lebih kecil dibandingkan dengan Eropa, namun terdapat surplus perdagangan besar 181 juta dolar AS di pihak Indonesia.
Ia juga menilai kerja sama ini bukan hanya soal peningkatan nilai perdagangan, tapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk unggulan Indonesia. Sektor industri seperti tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki menjadi salah satu yang paling diuntungkan.
“Akses pakaian jadi tekstil kita ke mana? Ke Peru, termasuk alas kaki, itu besar. Kita dapat banyak kemudahan akses pasar untuk itu. Ini salah satu untuk mendorong akses pasar kita di luar negeri,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (Dirjen PPI) Djatmiko Bris Witjaksono, menyebutkan kerja sama ini saling menguntungkan. Indonesia menargetkan nilai ekspor jangka panjang ke Peru bisa mencapai 5 miliar dolar AS dalam beberapa tahun mendatang.
Djatmoko mengatakan, produk-produk ekspor unggulan Indonesia antara lain motor mobil dan motor kendaraan lainnya, alas kaki, minyak sawit dan turunannya, dan lemari pendingin. Pada periode 2024, ekspor tumbuh rata-rata 15,4 persen per tahun.
Sementara, impor dari Peru antara lain terdiri dari biji kakao, briket batu bara, pupuk, bahan bakar padat, anggur, dan seng mentah, dengan rata-rata pertumbuhan 13,5 persen per tahun.
Baca Juga:Hunian Bernapas Alam, The Emeralda Resort Padalarang Tawarkan Harmoni dan KemewahanDi tengah Tekanan Global, Pasar Modal Indonesia Berperan Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Djatmiko menambahkan bahwa secara kuantitatif, Indonesia akan memperoleh preferensi lebih dari 90 persen post tarif yang ada di Peru.
