Pekerjaan Tetap Akan Hilang Pada 2030, Ini 5 Strategi Bertahan di Era Gig Economy

Era Gig Economy
Era Gig Economy
0 Komentar

Jika Anda ingin membangun bisnis dengan basis digital, Odoo bisa menjadi pilihan. Bahkan tersedia modul e-commerce yang memungkinkan Anda langsung berjualan. Hosting-nya pun masih gratis. Anda bisa langsung membagikan tautan website tersebut ke klien atau pelanggan.

Kini semua serba mudah, tinggal kemauan Anda saja, mau memanfaatkannya atau tidak.

Sebaliknya, jika Anda enggan mempelajari dan menggunakan tools seperti ini, maka perlahan Anda akan tertinggal. Anda akan menjadi gagap teknologi. Keterampilan yang dulunya dianggap unggul akan tergeser oleh perangkat lunak, sistem otomatisasi, atau AI yang bisa melakukan pekerjaan serupa dalam hitungan menit, bahkan detik, yang sebelumnya Anda butuhkan waktu berjam-jam atau berminggu-minggu untuk menyelesaikannya.

Baca Juga:Berhenti Berhemat, Ini 7 Cara Realistis Dapat Rp1 Miliar Pertama Tanpa Warisan4 Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertama Tanpa Modal yang Bisa Anda Coba Sekarang

Di sinilah pentingnya untuk mulai mengenal dan memanfaatkan tools digital. Tidak perlu langsung yang kompleks. Anda bisa mulai dari platform sederhana untuk membangun fondasi keterampilan digital Anda.

Dari Sudut Pandang Perusahaan

Mari kita mulai dari sudut pandang perusahaan dalam menghadapi era gig economy, di mana banyak perusahaan kini semakin enggan merekrut karyawan tetap (full-time). Mengapa demikian?

Bagi perusahaan, merekrut karyawan tetap berarti berkomitmen dalam jangka panjang. Artinya, perusahaan harus menanggung berbagai biaya tetap, bukan hanya membayar gaji, tetapi juga mencakup tunjangan, BPJS, pelatihan, cuti, hingga pajak tenaga kerja. Padahal, kebutuhan bisnis tidak selalu stabil. Ada masa-masa ketika proyek datang bertubi-tubi, namun ada pula saat proyek sepi dan tenaga kerja tidak banyak dibutuhkan.

Di sinilah peran freelancer dan pekerja paruh waktu (part-timer) menjadi semakin penting. Mereka akan menjadi andalan utama perusahaan, baik saat ini maupun di masa depan. Secara ekonomi, penggunaan tenaga kerja lepas lebih efisien: tidak perlu membayar BPJS, tidak perlu proses onboarding yang panjang, dan bisa langsung merekrut orang yang sudah ahli untuk menyelesaikan pekerjaan, lalu selesai begitu saja.

Sebuah riset dari Upwork menunjukkan bahwa 75% perusahaan berencana untuk mempertahankan bahkan meningkatkan penggunaan freelancer demi mendapatkan fleksibilitas dan akses talenta terbaik.

Dengan kata lain, perusahaan kini lebih memilih untuk merekrut berdasarkan kebutuhan. Hanya ketika ada proyek, dan hanya saat benar-benar dibutuhkan. Lalu, siapa yang akan direkrut? Mereka yang paling ahli, namun juga paling terjangkau secara biaya.

0 Komentar