Coklat Kita Silatusantren di Subang: Dorong Santri Jadi Pelopor Gerakan Peduli Sampah

Coklat Kita Silatusantren di Subang: Dorong Santri Jadi Pelopor Gerakan Peduli Sampah
Gerakan peduli lingkungan yang diinisiasi oleh Coklat Kita melalui program Silatusantren kembali digelar dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan
0 Komentar

Sementara itu, Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin, menegaskan bahwa program Coklat Kita Silatusantren bakal menyasar sekitar 15 pesantren di wilayah Jawa Barat. Subang sendiri menjadi lokasi kesembilan dari rangkaian program ini, bersamaan dengan kegiatan serupa yang juga berlangsung di wilayah Tasikmalaya.

“Tujuan utama kami adalah menumbuhkan budaya sadar lingkungan di kalangan pesantren. Ukuran keberhasilan kegiatan ini tidak dilihat dari antusiasme sesaat, melainkan dari bagaimana pesantren menerapkan ilmu yang diperoleh dalam aktivitas harian mereka,” jelas Yudi.

Program ini turut mendapat dukungan dan apresiasi dari berbagai tokoh masyarakat. Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Jawa Barat, KH. Atep Abdul Ghofar, menyampaikan bahwa keterlibatan santri dalam pengelolaan sampah memiliki nilai yang sangat strategis.

Baca Juga:Persib Siap Tempur di Super League dan ACL 2, Bojan Hodak Targetkan Start SempurnaChelsea Serius Incar Garnacho, MU Siap Lepas di Harga Diskon

Menurutnya, pelatihan seperti ini bukan hanya menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang bisa digarap secara kreatif.

“Jika para santri terbiasa sejak dini untuk mengolah sampah, mereka tak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menghasilkan produk bernilai jual. Ini merupakan kombinasi antara edukasi, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi,” ungkap KH. Atep.

Senada dengan itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Subang, KH. Satibi, menilai bahwa Coklat Kita Silatusantren membawa manfaat yang konkret dan berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya pelatihan praktis seperti pembuatan pupuk kompos dan eco-enzyme berbasis bahan organik sebagai bagian dari keterampilan hidup santri.

“Gerakan ini membekali para santri dengan kemampuan aplikatif yang akan sangat bermanfaat sepanjang hayat. Lebih dari itu, ini juga mendorong keterlibatan masyarakat untuk ikut peduli terhadap isu-isu lingkungan di sekitar mereka,” jelas KH. Satibi.

Di akhir sesi, Yudi Wate Angin menegaskan bahwa Coklat Kita berkomitmen untuk melanjutkan gerakan ini ke lebih banyak daerah dan pesantren lainnya. Ia berharap program ini akan menjadi gerakan kolektif berbasis komunitas pesantren yang mampu menjalar ke masyarakat secara luas. (Dam)

0 Komentar