Menanggapi persoalan ketimpangan antara sekolah negeri dan swasta, Wawa menyebut kondisi ini sebagai alarm serius.
Ia menyebut, fenomena sekolah swasta yang sepi hingga hanya memiliki satu siswa bukan semata soal pilihan orang tua, tetapi menandakan adanya ketimpangan sistemik.
“Bahkan ada yang hanya menyisakan satu siswa, itu bukan sekadar soal preferensi orang tua, tapi cerminan dari sistem pendidikan yang belum sepenuhnya sehat dan merata,” tegasnya.
Baca Juga:Grand Final Puteri Anak dan Remaja Jabar 2025: Mengukir Prestasi Generasi MudaKisah Inspiratif, Relawan Muda asal Cimahi yang Tak Kenal Lelah Membina Anak Binaan Yatim Dhuafa
Ia menyoroti fenomena orang tua yang lebih memilih sekolah negeri karena alasan biaya, yang pada akhirnya menimbulkan ketimpangan antara sekolah negeri yang padat dan swasta yang sepi.
“Pendidikan itu harusnya tidak saling bersaing, tapi saling melengkapi. Jika kita mau semua anak Indonesia mendapatkan pendidikan terbaik, maka semua sekolah, negeri atau swasta, harus mendapat ruang tumbuh yang setara,” ujarnya.
Lebih jauh, Wawa menyatakan bahwa pendidikan adalah hak, bukan privilage atau hak istimewa. Bantuan seperti subsidi perlengkapan sekolah atau kemitraan dengan UMKM lokal untuk menyediakan kebutuhan sekolah dinilai efektif.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pendampingan psikososial juga krusial.
“Tapi lebih dari bantuan ekonomi, yang juga dibutuhkan adalah pendampingan psikososial, agar siswa tidak merasa malu karena keterbatasannya,” imbuhnya.
Wawa dikenal aktif melakukan aksi nyata seperti membagikan kartu edukasi stunting berhuruf Braille untuk teman-teman disabilitas, serta rutin menggelar kegiatan berbagi dan edukasi.
“Saya juga senang melakukan aksi dengan kolaborasi. Tentunya berkolaborasi dengan seluruh remaja untuk semakin menguatkan makna dari Meaningful Youth Participation (MYP), karena remaja harus mulai terlibat dan bergerak,” katanya dengan penuh optimisme.
Namun, di balik semangat dan prestasinya, Wawa tak menampik pernah mengalami titik terendah dalam hidup. Perasaan tidak cukup baik dan tekanan lingkungan sempat membuatnya hampir menyerah.
Baca Juga:Pemkab Bogor Bangun Creative Hub, Dorong Kreativitas Anak MudaMengatur Keuangan dan Menjaga Kesehatan jadi Tantangan Anak Muda
“Tapi justru dari rasa ‘tidak cukup’ itu, saya belajar untuk menciptakan ruang pertumbuhan. Tekanan yang muncul jadi alasan untuk bertahan,” katanya tegar.
Dengan suara lirih, ia menuturkan bahwa ibunya adalah sumber kekuatan terbesar yang mengajarkannya tentang keteguhan dan kasih tanpa pamrih.
