JABAR EKSPRES – Keberadaan petani garam di wilayah pantura saat ini kondisinya banyak yang memprihatinkan. Hal ini menjadi perhatian serius Anggota DPRD Jawa Barat Fraksi Gerindra Daddy Rohanady.
Daddy mengatakan, petani garam di wilayah Pantura memiliki peran strategis dalam mendukung program swasembada garam nasional. Akan tetapi masalah kesejahteraan masih jauh dari harapan.
Menurutnya, sejauh ini pemerintah telah memberikan perlindungan berupa asuransi kepada para petani. Namun untuk para petambak garam belum dilakukan.
Baca Juga:Daddy Rohanady Minta Segara Perbaiki Masalah Ketimpangan EkonomiKetimpangan Ekonomi di Jabar Masih Tinggi, Pemprov Harus Lakukan Terobosan!
Sejauh ini, para petani garam punya resiko tinggi dan sangat tergantung pada kondisi cuaca. Sehingga jika hujan maka produksi akan menurun drastis.
Untuk itu, dengan adanya skema asuransi, para petambak dapat terlindungi dari risiko gagal panen dan tetap memiliki jaminan ekonomi ketika produksi terhenti.
Selain perlindungan sosial, Daddy juga mendorong pemerintah daerah membuka jalur pemasaran yang lebih luas agar hasil produksi garam rakyat bisa dijual dengan harga lebih baik.
“Akses pasar untuk petambak garam di Cirebon harus dibuka seluas-luasnya,” tegasnya.
Ia turut mengajak pemerintah provinsi dan kabupaten untuk memperbaiki akses infrastruktur menuju sentra produksi garam di kawasan pesisir.
Menurutnya, dukungan infrastruktur akan memperlancar mobilitas hasil panen dan menekan biaya logistik yang selama ini menjadi beban petambak kecil.
“Akses ke sentra produksi juga perlu dibantu, seperti halnya kita membantu jalan menuju sawah-sawah,” ujarnya.
Baca Juga:Perda Perubahan Pajak Daerah dan Restribusi Segera DibahasKepala Disarpus Kota Bandung Diduga Bemasalah, Wali Kota Desak Lakukan Evaluasi
Daddy menambahkan, potensi garam di pesisir utara Jawa Barat, seperti Indramayu dan Cirebon, masih besar untuk dikembangkan karena karakteristik lahannya sangat mendukung.
“Sebenarnya Indramayu lebih besar potensinya. Saya lihat Cirebon lebih ke perikanan tangkap,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi garam di Jawa Barat pada 2024 mencapai 211.044 ton.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Cirebon berkontribusi sekitar 34.832,9 ton, turun signifikan dibanding 2023 yang mencapai 116.490,25 ton.
‘’Jadi berbagai kebutuhan peralatan penunjang juga harus dibantu oleh pemerintah agar produksi garam terus bisa diproduksi dan tidak tergantung oleh kondisi cuaca saja,’’ ujarnya. (yan)
