Produksi Beras Melimpah, Mentan Amran Sebut Bisa Dongkrak Ekonomi Nasional 

Produksi Beras Melimpah, Mentan Amran Sebut Bisa Dongkrak Ekonomi Nasional 
Ilustrasi Petani Indonesia sedang memanen padi di sawah. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah tantangan global yang menekan sektor pangan, Indonesia justru mencatat lonjakan produksi beras yang signifikan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa peningkatan produksi ini tidak hanya menjamin pasokan pangan nasional, tetapi juga menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan petani.

“Lonjakan produksi beras memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Amran dikutip dari ANTARA, Selasa (5/8/2025).

Baca Juga:Aset Industri Asuransi Capai Rp1.163,11 Triliun per Juni 2025, Alami Kenaikan di tengah Dinamika EkonomiKomisi III DPRD Kabupaten Bogor Minta DPKPP Segera Selesaikan 1.600 Hunian Tetap di 2026 

Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinannya mencatat berbagai pencapaian strategis. Salah satu tonggak penting adalah rekor stok beras nasional tertinggi sepanjang sejarah, yakni 4,2 juta ton per Juli 2025.

Capaian ini memberikan ruang stabilisasi harga dan jaminan distribusi di tengah ketidakpastian iklim dan dinamika pasar global.

Bahkan laporan terbaru dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture/USDA) memperikirakan produksi beras Indonesia pada musim tanam 2024/2025 mencapai 34,6 juta ton, angka tertinggi di kawasan ASEAN, melampaui Thailand dan Vietnam.

Angka tersebut juga melampaui target nasional yang ditetapkan Kementan sebesar 32 juta ton di 2025.

Ia mengatakan beradasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian tercatat menyumbang 10,52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan I 2025 secara year-on-year, kontribusi tertinggi dalam sejarah.

Menurutnya, dengan adanya dukungan berbagai pihak, termasuk kalangan akademis dan cendikiawan, capaian Kementan menjadi bukti nyata bahwa swasembada pangan bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan tekad bersama yang sedang diwujudkan kembali secara konkret.

“Komitmen kuat terhadap kemandirian pangan, keberpihakan kepada petani, serta kebijakan yang berdampak langsung di lapangan menjadi landasan utama bagi pembangunan pertanian nasional yang berkelanjutan dan berdaulat,” ujarnya.

0 Komentar