JABAR EKSPRES – Menjelang akhir tahun 2024 hingga memasuki tahun 2025, ruang digital Indonesia dihebohkan oleh kemunculan istilah kontroversial “Jawa = hama.” Ungkapan ini pertama kali muncul sebagai komentar spontan warganet di platform media sosial seperti TikTok, sebelum akhirnya meluas ke X (Twitter), Instagram, hingga YouTube.
Bagi sebagian orang, istilah tersebut dianggap sebagai bentuk candaan sinis yang tidak perlu diambil terlalu serius. Namun, bagi sebagian lainnya, frasa ini menyimpan rasa sakit, keresahan, bahkan dendam sosial yang telah lama terpendam.
Fenomena ini tentu berdampak buruk terhadap semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Terlebih, masyarakat Jawa sendiri memiliki keberagaman yang sangat luas dalam hal cara berpikir, agama, hingga pandangan hidup. Generalisasi semacam ini tidak hanya merugikan, tetapi juga berpotensi memecah belah.
Baca Juga:7 HP Infinix Terbaik 2025 dengan Spesifikasi Tinggi dan Harga Terjangkau10 Fitur Baru iOS 26 Keren Ini Wajib Dicoba Pengguna iPhone di 2025
Kemunculan istilah “Jawa = hama” dipicu oleh berbagai video yang menampilkan perilaku tidak menyenangkan dari segelintir individu berlatar budaya Jawa. Contohnya termasuk konvoi truk dengan sound system berlebihan atau dikenal sebagai sound horeg, aksi klub motor yang merusak fasilitas publik, hingga bentrokan antaranggota perguruan silat.
Warganet menyoroti bahwa perilaku semacam ini kerap kali terjadi di wilayah yang mayoritas penduduknya berasal dari etnis Jawa, sehingga memicu generalisasi negatif terhadap seluruh kelompok etnis tersebut.
Namun demikian, istilah ini tidak hanya muncul sebagai reaksi terhadap perilaku menyimpang. Banyak pihak meyakini bahwa istilah tersebut juga menjadi simbol dari ketimpangan sosial yang telah lama tertanam dalam struktur kebangsaan Indonesia. Dominasi masyarakat Jawa dalam birokrasi, politik, hingga budaya dinilai sebagian orang telah menciptakan ketidakseimbangan representasi di tingkat nasional. Akumulasi rasa tidak nyaman tersebut akhirnya meledak dalam bentuk ekspresi sarkastik di ruang digital.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperkeruh suasana, melainkan sebagai bentuk kritik sosial yang konstruktif, terutama bagi masyarakat Jawa itu sendiri. Diharapkan, oknum-oknum yang memicu munculnya stereotip negatif ini dapat merefleksikan dan memperbaiki perilaku, sehingga tidak merugikan citra masyarakat Jawa secara keseluruhan.
Fenomena Sebutan Jawa = Hama
Salah satu fenomena yang turut memicu ketegangan sosial di ruang digital adalah sound horeg, yaitu aktivitas komunitas penggemar kendaraan modifikasi, khususnya truk, yang dilengkapi dengan sound system berskala besar. Truk-truk ini kerap melakukan parade di jalan-jalan sempit sambil memutar musik dengan volume sangat tinggi, sehingga seringkali mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
