Dari Sound Horeg, Silat hingga ke Stigma Etnis, Fenomena Jawa = Hama di Medsos

Fenomena Jawa = Hama di Medsos
Fenomena Jawa = Hama di Medsos
0 Komentar

Fenomena ini dapat ditafsirkan sebagai cerminan bahwa sebagian masyarakat kita memiliki ketahanan mental yang lemah, sehingga merasa perlu bergabung dengan komunitas atau organisasi yang dianggap memiliki kekuatan dan pengaruh. Untuk menunjukkan eksistensi dan kekuatan tersebut, mereka kerap menggelar konvoi atau tampil mencolok di ruang publik. Namun, pertanyaannya adalah: apakah aksi ini benar-benar berhasil membangun citra positif, atau justru menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat luar?

Konvoi yang dilakukan oleh perguruan silat, perayaan kelulusan, atau peringatan ulang tahun sering kali berubah menjadi parade yang intimidatif. Ribuan orang memenuhi jalan, memblokir akses warga, mengibarkan bendera organisasi, hingga meneriakkan yel-yel dengan suara keras. Dalam situasi tertentu, bentrokan antarperguruan pun tak dapat dihindari. Bahkan, insiden berdarah acapkali terjadi. Bagi masyarakat umum, peristiwa semacam ini terasa mengganggu, meresahkan, bahkan menakutkan.

Yang lebih mengejutkan, fenomena konvoi perguruan silat ini bahkan “diekspor” hingga ke luar negeri, salah satunya ke Jepang. Beberapa video viral menunjukkan anggota perguruan silat mengenakan seragam lengkap dan berkumpul di ruang publik, termasuk di jalanan Tokyo atau Osaka. Aksi ini menuai kecaman, baik dari warganet Jepang maupun Indonesia.

Baca Juga:7 HP Infinix Terbaik 2025 dengan Spesifikasi Tinggi dan Harga Terjangkau10 Fitur Baru iOS 26 Keren Ini Wajib Dicoba Pengguna iPhone di 2025

Banyak yang menilai perilaku tersebut tidak menghargai budaya ketertiban dan ketenangan yang sangat dijunjung tinggi di Jepang. Sebagai salah satu negara maju, Jepang memiliki regulasi ketat terhadap kegiatan berskala besar di ruang publik, yang harus melalui izin otoritas setempat.

Alih-alih menjadi representasi budaya Indonesia, tindakan semacam ini justru dianggap mempermalukan citra bangsa di mata dunia internasional.

Lebih jauh, menyamakan satu etnis dengan sebutan “hama” merupakan bentuk dehumanisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hama diartikan sebagai hewan yang merugikan, seperti merusak tanaman atau mengganggu hasil panen. Dalam pengertian yang lebih luas, hama dapat merujuk pada organisme pengganggu secara umum, baik terhadap manusia, hewan ternak, maupun tanaman.

Dengan demikian, ujaran yang menyebut suatu kelompok sebagai “hama” bukan sekadar ungkapan kasar, melainkan simbolisasi bahwa kelompok tersebut dianggap sebagai pihak yang merugikan, tidak produktif, dan tidak layak mendapatkan tempat dalam struktur sosial masyarakat. Narasi semacam ini sangat berbahaya karena dapat memicu diskriminasi, stigmatisasi, dan perpecahan di tengah keberagaman bangsa.

0 Komentar