JABAR EKSPRES – Volume sampah di Pasar Atas Cimahi bisa mencapai tiga hingga empat ritase setiap harinya.
Besarnya jumlah tersebut menjadi beban tidak hanya bagi pengelola pasar, tetapi juga sistem pengangkutan dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sari Mukti yang saat ini mulai membatasi ritase.
Untuk menekan volume sampah itu, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Atas Cimahi menjalankan sistem pengelolaan sampah terpadu yang dimulai dari hulu yakni para pedagang.
Baca Juga:Rekonsiliasi Politik di Tubuh KNPI Cimahi, Tiga Bakal Calon Sepakat Usung Sultan MujahidTolak RKUHAP, Ini Empat Tuntutan BEM SI!
Edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik mulai digencarkan secara langsung ke lapangan, menyasar kios dan lapak satu per satu.
Program ini tak lepas dari peran Toni Hidayat, Kasubag TU UPTD Pasar Atas Cimahi, yang tengah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) angkatan 2 di Provinsi Jawa Barat.
Ia menjadikan pengelolaan sampah pasar sebagai proyek aksi perubahannya.
“Saya tengah mengangkat isu tentang pengelolaan sampah, sehingga saya berinisiatif untuk membuat alat pengelolaan sampah manual,” kata Toni saat ditemui Jabar Ekspres di kantornya, Kamis (31/7/2025).
Berbekal tantangan dari pelatihan untuk membuat solusi tanpa dukungan anggaran, Toni merakit alat pengelolaan sampah sederhana dari bahan yang tersedia di lapangan, seperti tong plastik dan karung.
Mesin tersebut kini digunakan untuk mengolah sampah yang sebelumnya hanya ditimbun lalu dibuang.
Sebelum alat itu digunakan, ia bersama tim Germas lebih dulu menyosialisasikan pentingnya memilah sampah kepada para pedagang.
“Memilah sampah mesti dimulai dari hulu, sehingga lebih mudah dalam memprosesnya di mesin pengelolaan sampah manual,” tuturnya.
Baca Juga:Menuju BLUD, RS Asih Husada Harus Lepas Ketergantungan APBDBerangkat Ilegal, Tiga PMI asal KBB Terjebak Konflik di Kamboja
Hasilnya cukup signifikan. Volume sampah di Pasar Atas Cimahi menurun dari semula 3-4 ritase per hari menjadi hanya sekitar 1,5 ritase.
Lebih dari sekadar pengurangan volume, Toni menjelaskan, pengelolaan ini juga menghasilkan manfaat ekonomi bagi para petugas sampah.
“Alhamdulillah, saat ini produksi volume sampah cukup turun, dan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang dapat membantu penghasilan para petugas sampah,” ujar Toni.
Dampak lanjutan dari proses pengolahan itu pun mulai terlihat. Sisa sampah organik yang diproses menghasilkan cairan yang bisa digunakan sebagai pupuk atau bahan baku maggot, larva lalat yang biasa dijadikan pakan ternak.
