Meski disebut hemat biaya, bukan berarti tanpa pengeluaran. Nana menjelaskan, pembiayaan tetap ada, terutama untuk kebutuhan logistik seperti bahan bakar dan makanan.
“Iya, itu didorong kepada, kan pengelolaannya disebut pariwisata, dengan perhimpunan pemandu wisata, kami mendorong silakan lah. Karena kan pada waktu mereka studi tour itu, perlu ada BBM,” katanya.
Lebih jauh ia menambahkan, dalam proses tur tersebut siswa juga mendapat makanan ringan sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata mengenai lokasi yang mereka kunjungi.
Baca Juga:Tindak Lanjut Instruksi Gubernur Jabar, Disdik Cimahi Tegaskan Larangan Bawa Gawai di SekolahTinjau Situgede, Dedie Rachim Apresiasi Seorang Pemuda atas Aksinya dalam Menjaga Lingkungan
“Misalkan, Dustira, ini sejarahnya Dustira seperti apa, atau gereja Ignatius, atau masjid Abri, atau misalkan beberapa daerah historik, itu kan harus terjelaskan. Itu mungkin sewajarnya lah yang kita dorong,” tambah Nana.
Dengan konsep lokal ini, biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih terjangkau dibandingkan kegiatan study tour ke luar kota.
“Minim lah (biaya), dan itu kembali lagi ke anak. Misal untuk BBM, untuk snack mereka ketika dalam proses perjalanan, kan kita menggunakannya juga sekoci, yang sekoci itu,” ujarnya merujuk pada kendaraan pengantar siswa selama tur berlangsung.
Kebijakan ini, lanjut Nana, bukan hanya sudah diterapkan, tapi juga mendapat sambutan positif dari siswa maupun orang tua.
“Sudah, sudah dari tahun kemarin. Tahun kemarin sudah kita jalankan. Antusias anak juga sangat bersemangat untuk mengikuti itu. Namun mungkin ada giliran lah, karena kan banyak satuan,” pungkasnya. (Mong)
Reporter: Firman Satria
