JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat strategi mitigasi bencana dengan menyasar langsung satuan pendidikan dasar, khususnya jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Langkah ini diambil sebagai bentuk upaya preventif dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini.
Kepala BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, mengungkapkan bahwa sosialisasi dan simulasi kebencanaan di lingkungan sekolah saat ini menjadi salah satu prioritas utama.
BPBD bersama sejumlah pihak, termasuk Dinas Pendidikan, mulai mengintensifkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana yang akan diterapkan secara bertahap di sekolah-sekolah dasar dan menengah.
Baca Juga:Bunga Rendah Cuma 6 Persen! Sri Mulyani Suntik Dana Kopdes dari SAL APBNWaspadai Sesar Lembang! BPBD Kota Bandung Siapkan Geotrack dan Video Edukasi untuk Bangun Budaya Siaga Gempa
“Sekarang kami dan teman-teman ke sekolah-sekolah, terutama SD dan SMP, untuk sosialisasi dan simulasi. Ini bagian dari upaya menjadikan sekolah sebagai satuan pendidikan yang aman bencana,” kata Didi, Rabu (30/7).
Menurut Didi, meskipun murid-murid sekolah dasar dan menengah tergolong kelompok usia yang masih sangat muda, mereka justru memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga.
Ia menilai, dalam beberapa pengalaman sebelumnya, anak-anak yang mendapatkan edukasi kebencanaan di sekolah justru mampu menyampaikan informasi tersebut kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya secara efektif.
“Pengalaman terdahulu menunjukkan, yang bisa mengedukasi orang tuanya soal kebencanaan itu malah anak-anaknya. Jadi harapannya, ketika satu anak diedukasi, maka satu keluarga ikut belajar,” ujarnya.
Salah satu bentuk mitigasi yang dilakukan adalah simulasi gempa bumi yang menekankan pada prosedur keselamatan dasar.
Dalam simulasi ini, siswa diajarkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan jika terjadi gempa, seperti teknik evakuasi, perlindungan kepala dan leher, serta mengenali area aman di dalam ruangan.
“Di SD itu, kita ajarkan kalau terjadi gempa apa yang harus dilakukan. Yang pertama adalah drop, atau merunduk. Lalu lindungi kepala dan leher, karena itu bagian tubuh paling fatal kalau terkena reruntuhan. Bisa pakai tangan, tas, buku, atau apapun yang ada,” jelas Didi.
Baca Juga:Pemprov Jabar Berencana Bentuk Superholding BUMD, Miniatur Danantara?Transparansi Dana Desa Kini Digital, Kabupaten Bogor Siap Kawal Lewat Aplikasi Jaga Desa
“Kalau memungkinkan, berlindung di bawah meja dan pegang kaki mejanya supaya stabil. Kalau tidak ada meja, bisa gunakan kursi yang dibalik atau menepi ke sudut dinding yang lebih aman. Itu semua dilatihkan dalam simulasi di sekolah,” lanjutnya.
