JABAR EKSPRES – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah menyelidiki kasus kematian mendadak sejumlah sapi perah betina di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang.
Kasus ini naik ke permukaan setelah sejumlah peternak di wilayah Kecamatan Lembang melaporkan belasan sapinya mati tak lama pasca melahirkan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dispernakan Bandung Barat, Acep Rohimat, mengatakan timnya telah melakukan pemeriksaan langsung ke lapangan. Tim mengecek kondisi kandang, mengambil sampel darah dan pakan, serta melakukan wawancara dengan para peternak terdampak.
Baca Juga:Harapan Pulang ke Tanah Air Belum Jelas, PMI Banjar di Brunei Malah Terjebak Kasus TPPOIni Strategi Pemerintah Genjot Pertumbuhan Ekonomi di Semester II 2025
“Kami mendatangi beberapa kandang sapi milik peternak di wilayah Desa Cikahuripan, untuk merespons laporan adanya kematian mendadak sapi milik sejumlah peternak,” ujar Acep saat dikonfirmasi, Senin (28/7/2025).
Menurut Acep, gejala yang ditunjukkan sapi-sapi yang mati berbeda dari penyakit umum seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dalam pemeriksaan awal menunjukkan sebagian besar sapi lainnya masih dalam kondisi sehat.
“Kami lihat hidung sapi masih basah, yang menjadi indikator sapi tersebut tidak mengalami demam. Ini cukup penting untuk menyisihkan dugaan PMK,” jelasnya.
Meski begitu, pihaknya menemukan beberapa kandang dengan kondisi kurang ideal dari segi kebersihan dan manajemen. Dispernakan berencana memberikan catatan khusus dan edukasi kepada peternak terkait pentingnya biosekuriti.
Terkait penyebab pasti kematian, Acep menyatakan belum dapat memberikan kesimpulan sebelum hasil uji laboratorium keluar.
“Kami sebagai dokter hewan tidak bisa menebak-nebak tanpa hasil laboratorium yang valid. Perkiraan hasil lab akan keluar sekitar satu minggu ke depan,” ujarnya.
Acep menegaskan bahwa kasus ini belum bisa dikategorikan sebagai wabah karena jumlah kasus masih terbatas dan belum ditemukan pola penyebaran yang jelas. Namun demikian, pihaknya mengimbau peternak untuk waspada dan segera melaporkan jika mendapati gejala mencurigakan pada ternaknya.
Baca Juga:Praktik Beras Oplosan Ancam Stabilitas Sosial, Benarkah?Kontra dengan Kebijakan Gubernur Demul, Farhan: Study Tour Boleh Dilaksanakan!
“Satu ekor yang sakit harus segera dipisahkan, dan laporkan ke petugas. Kami siap membantu penanganannya,” tegasnya.
Salah satu peternak, Iyus (43), warga Kampung Pojok Girang RT 01 RW 04, mengaku sapinya mati mendadak pada Rabu, 23 Juli 2025, hanya tujuh hari setelah melahirkan.
