“Kondisi kepala korban luka berat,” jelas Dodi.
Sepeda motornya ringsek tak berbentuk. Yang paling memilukan, perlintasan tempat nyawa Ihun melayang ini hanya mengandalkan penjagaan swadaya masyarakat, tanpa infrastruktur pengaman resmi sedikit pun dari otoritas berwenang.
Diduga kuat, Ihun, saat berusaha menyeberang, tidak melihat atau menyadari kedatangan KA Kutojaya Selatan akibat terbatasnya pandangan dan ketiadaan sistem peringatan yang memadai.
Ketidakmampuan mendeteksi kereta pada momen kritis itulah yang berujung fatal. Tim gabungan polisi dan BPBD kemudian mengevakuasi jasad korban yang dibawa ke RSUD Banjar untuk visum.
Baca Juga:Penertiban Parkir Liar di Kota Bandung, Dishub: Setiap Hari Ada Tindakan, Ratusan Kendaraan TerjaringUpaya Penyelamatan Lingkungan, Pemkab Bogor dan KLHK Bongkar Bangunan Ilegal di Kawasan Puncak
Kepala Dinas Perhubungan Kota Banjar, Asep Sutarno, mengakui telah mengusulkan pemasangan palang pintu otomatis di beberapa titik rawan, termasuk Balokang, kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Tapi hingga saat ini, belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Sementara itu, PT KAI, sebagai pengelola jalur kereta api, hingga berita ini diturunkan, belum memberikan keterangan resmi terkait nasib perlintasan maut di Balokang. (CEP)
Reporter: Cecep Herdi
