Palang Pintu Kereta Api yang Tak Kunjung Terwujud, Nyawa Rakyat Terus Dikorbankan

Palang Pintu Kereta Api yang Tak Kunjung Terwujud, Nyawa Rakyat Terus Dikorbankan
Pintu perlintasan kereta api tanpa palang yang berada di Desa Balokang Kota Banjar menelan korban jiwa seorang pengendara sepeda motor pada Minggu (27/7/2025). Komisi lll mendesak, pihak berwenang segera memasang palang pintu otomatis untuk mencegah musibah serupa. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tragedi maut kembali menyapa perlintasan kereta api di Kota Banjar. Ihun (70 tahun), seorang penjual mainan keliling, meregang nyawa setelah sepeda motornya ditabrak kereta api Kutojaya Selatan pada Minggu (27/7/2025) siang. Lokasinya, di pintu perlintasan tanpa palang di kawasan Balokang.

Kematian Ihun bukan sekadar kecelakaan, melainkan potret kelalaian sistemik atas infrastruktur keselamatan yang telah lama diabaikan, menuai kritik pedas dari Komisi III DPRD Kota Banjar.

Ketua Komisi III DPRD Banjar, Cecep Dani Sufyan, dengan lantang menyoroti kelambanan dan ketidakpedulian yang berujung pada hilangnya nyawa warga. Ia mengutip perkataan Khalifah Umar bin Khattab yang legendaris, “Seandainya seekor keledai terperosok di kota Baghdad niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya, seraya ditanya: Mengapa tidak meratakan jalan untuknya?”.

Baca Juga:Penertiban Parkir Liar di Kota Bandung, Dishub: Setiap Hari Ada Tindakan, Ratusan Kendaraan TerjaringUpaya Penyelamatan Lingkungan, Pemkab Bogor dan KLHK Bongkar Bangunan Ilegal di Kawasan PuncakĀ 

Kutipan ini, bagi Cecep, bukan sekadar retorika, melainkan cermin tanggung jawab kepemimpinan yang paling mendasar.

“Ini mencerminkan pedulinya seorang pemimpin, meski hanya untuk seekor binatang di wilayah kekuasaannya. Umar takut ditanya Rabb-nya. Lantas, bagaimana dengan kita?” tegasnya.

Cecep menegaskan, tragedi seperti di Balokang adalah pengulangan pilu yang seharusnya bisa dihindari.

“Sudah berulang kali kejadian membahayakan bahkan hingga menelan korban, tindakan nyata pencegahan belum juga terlihat,” keluhnya.

Ia tidak hanya menuntut pemasangan palang pintu, tetapi juga evaluasi menyeluruh oleh Dinas Perhubungan setempat dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terhadap seluruh perlintasan sebidang tanpa palang di Kota Banjar.

Persoalan di Balokang, menurut pengamatan Komisi III, jauh lebih kompleks daripada sekadar tidak adanya palang. Jarak pandang pengendara yang terbatas membuat arah datangnya kereta sulit dipantau. Lampu sinyal yang ada dinilai terlalu jauh dan hanya terlihat jelas dari jarak sangat dekat dengan rel, menghilangkan elemen peringatan dini yang vital.

“Kondisi ini seperti membiarkan warga berjibaku dengan maut setiap kali menyeberang,” kritik Cecep.

Baca Juga:Inflasi Kota Bogor Terkendali, Harga Pangan Tetap StabilPasar Cileungsi Bebas Praktik Beras Oplosan, Masyarakat Diminta Tetap WaspadaĀ 

Sebagai solusi minimal darurat, ia mendesak pemasangan polisi tidur setinggi dua meter sebelum perlintasan untuk memaksa pengendara berhenti sejenak dan memastikan kondisi aman.

Detail kejadian Minggu siang itu memperkuat gambaran mengerikan tentang betapa rawannya lokasi tersebut. Menurut Dodi, petugas Satpam Stasiun Banjar, tabrakan terjadi sekitar pukul 13.32 WIB dengan kekuatan dahsyat. Ihun terlempar hingga 15 meter dari titik tabrakan.

0 Komentar