JABAR EKSPRES – Di tengah perubahan kebijakan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat, pelaku usaha kriya atau kerajinan di Tanah Air tetap optimis. Mereka yakin, produk kriya yang kaya nilai budaya dan keunikan lokal akan tetap diminati, bahkan di tengah gempuran produk-produk impor.
Sebagaimana diketahui, Indonesia telah menjalin kesepakatan baru dengan Amerika Serikat yang mencakup penurunan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen. Namun, tantangan muncul dengan adanya kesepakatan tarif nol persen bagi barang-barang asal AS yang masuk ke pasar Indonesia. Kondisi ini dikhawatirkan memicu banjir produk luar ke dalam negeri.
Meski begitu, para pelaku usaha kriya tidak gentar. Mereka melihat peluang dan keunggulan yang tetap membuat produk lokal relevan dan kompetitif. Salah satunya adalah Punia Giri, pelaku UMKM asal Jawa Barat dengan brand Kamisuka.
Baca Juga:Pemanasan di Bangkok, Persib Dapat Suntikan PutrosPocari Run Jadi Wajah Bandung di Ajang Lari Nasional, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kota
Punia menceritakan, pihaknya telah menggeluti usaha di bidang wastra itu beberapa tahun terakhir. Bermula dari kegemarannya soal kain, ia pun berusaha menciptakan produk sendiri. Produknya khas, memadukan seni batik dengan berbagai kultur lokal.
Menurut Punia, dirinya telah cukup menyimak terkait kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS yang baru-baru ini dilangsungkan. Termasuk tantangan barang AS yang akan membanjiri pasar Indonesia.
Namun hal itu bukan hal yang sangat dikhawatirkan. “Sebelum kesepakatan dangang Trump ini kan dulu juga sudah banyak barang-barang China masuk,” katanya kepada Jabar Ekspres, saat ditemui di Pameran KKJB 2025.
Perempuan Bandung itu mengaku masih optimis bahwa produknya akan tetap laku di tengah gempuran barang AS. “Menurut kami, customer itu jeli. Dan wastra itu punya segmen tersendiri. Jadi tidak akan gampang terdampak,” tuturnya.
Senada dengan Punia, Taurisia, perajin keramik asal Bogor yang akrab disapa Sisi juga menyampaikan optimisme serupa. Menurutnya, produk kerajinan tangan tidak mudah ditiru karena mengandung nilai seni dan budaya yang tinggi.
“Yang kami jual itu seni. Jadi ada nilai budayanya juga,” katanya.
Sisi itu menceritakan, dirinya sudah gemar untuk membuat kerajinan dari keramik sejak SMP. Hal itu bermula dari orang tua yang memang sudah berkutat puluhan tahun bekerja dengan bahan keramik. “Bapak itu buat keramik untuk perlengkapan petromak,” katanya.
