PM Jepang Ishiba Tegaskan Tak Akan Mundur Meski Hadapi Tekanan Usai Pemilu

PM Jepang Ishiba Tegaskan Tak Akan Mundur Meski Hadapi Tekanan Usai Pemilu
Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, pada Rabu (9 Oktober 2024) secara resmi membubarkan parlemen guna mempersiapkan pelaksanaan pemilu lebih awal yang direncanakan berlangsung pada 27 Oktober 2024, menurut laporan media lokal. (SUMBER FOTO: ANTARA/Anadolu)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menyatakan tekadnya untuk tetap menjabat sebagai kepala pemerintahan, walaupun Partai Demokrat Liberal (LDP) yang ia pimpin berpotensi mengalami kekalahan besar dalam pemilihan Majelis Tinggi. Meski begitu, LDP masih diprediksi menjadi partai terbesar di parlemen.

Dalam sebuah acara televisi pada Minggu (20/7), Ishiba menyampaikan bahwa partainya harus menyadari sepenuhnya tanggung jawab sebagai kekuatan utama di parlemen. Ia menegaskan niatnya untuk menghadapi tantangan negara dengan penuh tanggung jawab.

“Kita harus sepenuhnya menyadari tanggung jawab kita sebagai partai terbesar di parlemen. Saya ingin benar-benar menyadari tanggung jawab saya untuk menangani isu-isu yang dihadapi negara ini dengan baik,” katanya.

Baca Juga:Alex Marquez Prioritaskan Strategi dan Data di Sprint Race MotoGP Ceko 2025Hujan Lebat dan Longsor di Korea Selatan Tewaskan 10 Orang dan 9 Masih Hilang

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal LDP, Hiroshi Moriyama, menyampaikan pentingnya mencegah kekosongan politik, terutama setelah koalisi yang berkuasa diprediksi mengalami kemunduran besar dalam pemilu tersebut. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Ishiba tidak akan segera mengundurkan diri, kendati partai oposisi menolak membentuk aliansi dengan koalisi pemerintahan saat ini.

Ishiba sendiri dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin. Ia menegaskan akan fokus melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat terkait tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump, menjelang batas waktu pembahasan pada 1 Agustus. Ia mengatakan akan berjuang dengan sepenuh hati untuk menyelesaikan isu tersebut.

Tetsuo Saito, pemimpin Komeito yang merupakan mitra koalisi junior LDP, memperingatkan bahwa menarik diri dari aliansi pemerintahan hanya karena hasil buruk dalam pemilu dapat menggerus kepercayaan publik.

Namun demikian, tekanan agar Ishiba mundur tetap ada. Pemimpin Partai Demokrat Konstitusional Jepang, Yoshihiko Noda, mengancam akan mengajukan mosi tidak percaya terhadap kabinet jika Ishiba bersikeras untuk tidak mengundurkan diri. Ia menyebut bahwa mosi tersebut “pasti akan dipertimbangkan.”

Apabila mosi tidak percaya disahkan di Majelis Rendah, yang memiliki kekuasaan lebih besar dibandingkan Majelis Tinggi, maka pemerintah harus memilih antara membubarkan parlemen dalam waktu sepuluh hari atau seluruh kabinet mengundurkan diri secara kolektif. Saat ini, blok pemerintahan tidak menguasai mayoritas di Majelis Rendah, membuat posisi Ishiba semakin terdesak.*

0 Komentar