Di desa itu pengunjung diajak untuk ikut menam padi, panen ketika musimnya hingga menumbuk dan memasak sendiri.
“Jadi memetik cabai dikebun, atau panen padi ketika musimnya. Lalu mengolahnya sampai jadi makanan. Namanya Halimun Lembur Experience,” bebernya.
Ternyata konsep itu disambut positif. Banyak wisatawan dari berbagai daerah berdatangan, termasuk para turis mancanegara.
“Ada dari Jepang dan beberapa negara Asia lainnya,” cetusnya.
Baca Juga:API Jabar Geruduk Gedung Sate, Tolak Pergantian Nama RSUD Al IhsanDemi Ketahanan Pangan, Taj Yasin Dorong Regenerasi Petani
Kegiatan itu ternyata tidak hanya membuat dapur warga mengepul, tapi juga memutar perekonomian warga setempat.
Beberapa wisatawan justru ingin berlama-lama di lokasi, mereka betah dan ingin menikmati pengalaman lebih banyak.
Makanya warga kemudian mengembangkan homstay untuk memfasilitasi penginapan.
“Jadi pendapatan warga itu dari penginapan, atau dapat pesanan makanan dari wisatawan,” kata Hamdan.
Pundi – pundi rupiah lain yang didapat warga adalah jasa tour guide, warga setempat banyak yang jadi pemandu.
Mereka mengantarkan wisatawan ke beberapa titik atau spot yang bisa dikunjungi, termasuk mendiskripsikan berbagai spot dan kegiatan warga.
Hamdan melanjutkan, konsep wisata di desanya terus dikembangkan, termasuk memadukan unsur-unsur budaya lokal.
Selain pertanian, kawasan Desa Malasari juga memiliki pesona alam yang indah. Salah satunya objek air terjun di kampung tersebut. Objek itu juga bisa menjadi sasaran wisata alternatif bagi pengunjung.
Dongkrak Pendapatan Desa
Baca Juga:Proyek Nasional Tol Cisumdawu Menyisakan Masalah Pembebasan Lahan, Warga Tuntut Keadilan!Tahun Ajaran Baru, SMK Yasira Ciamis hanya Diisi Satu Siswa
Geliat ekonomi dari desa wisata juga diceritakan Direktur Bumdes Kaduela Kabupaten Kuningan Iim Ibrahim. Pihaknya mengelola objek wisata Telaga Biru Cicerem. Warisan alam itu tak hanya indah, tapi juga mampu mendongkrak perekonomian desa.
Iim menceritakan, dalam rekrutmen karyawan dalam pengelolaan kawasan itu ia memprioritaskan warga setempat. Sedikitnya ada 170 karyawan yang dipekerjakan di kawasan itu, mereka adalah warga asli.
“Itu belum para pedagang,” imbuhnya.
Kemudian, meski dikelola secara mandiri oleh Bumdes, ternyata pendapatan dari objek wisata itu juga cukup moncer.
Iim menceritakan, pendapatan tahunan Bumdesnya bisa tembus di angka Rp 2-3 miliar.
Pendapatan moncer itu jadi ladang pemasukan sendiri bagi kas desa.
“Misal di 2021 pernah setor untuk PADesa sampai Rp 500 juta,” katanya.
