Sedangkan dari sisi Kriminolog, Haniva justru lebih condong pada dugaan pembunuhan. Ia menyebut bahwa lakban yang digunakan bukan jenis umum yang dijual bebas, dan bisa menjadi petunjuk penting dalam penyelidikan.
“Jenis lakban yang digunakan bisa ditelusuri secara digital, apakah dibeli secara online atau offline. Selain itu, penyidik harus memeriksa jejak digital korban—riwayat chat, panggilan, bahkan histori belanja daring,” katanya.
Dari pihak keluarga, adik ipar korban menyampaikan bahwa korban adalah pribadi yang optimis, hidup teratur, dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda gangguan psikologis ataupun perilaku seksual menyimpang.
Baca Juga:Pemkot Bandung Tegaskan Komitmen, Tak Boleh Ada Anak Putus SekolahPesta Berujung Maut: Ketika Panggung Megah Menelan Nyawa, Tangisan Rakyat di Tengah Hajat Nikahan Anak KDM
“Korban sangat mencintai hidup, dekat dengan keluarga, dan tak pernah menunjukkan gelagat aneh. Kami yakin ini bukan kasus bunuh diri atau penyimpangan seksual seperti yang dispekulasikan,” ujarnya.
Sejauh ini, dugaan keterkaitan antara profesi korban sebagai diplomat dan cara kematiannya masih menjadi fokus utama penyelidikan. Para ahli menekankan pentingnya investigasi yang tidak hanya menyoroti aspek fisik, tetapi juga psikologis dan simbolik.
“Ini bukan hanya soal siapa pelakunya, tapi juga mengapa metode ini yang dipilih. Motif simbolik bisa membuka tabir lebih luas,” pungkasnya.
