Sesuai janji saya kepada pihak yang bersangkutan, kami juga telah melakukan uji ELA (Error Level Analysis) terhadap dokumen tersebut. Ini juga sebagai jawaban atas pernyataan salah satu pihak yang mengaku ahli, namun tidak mampu menjelaskan ELA dan menyebut ELA tidak bisa digunakan untuk dokumen digital. Padahal, bahkan junior saya pun bisa melakukan analisis ELA.
ELA merupakan metode untuk mendeteksi apakah sebuah gambar atau dokumen telah mengalami manipulasi digital. Jika ada rekayasa atau penambahan elemen, maka hasil ELA akan menunjukkan tingkat error yang tinggi pada area gambar tersebut.
Sebagai contoh, silakan lihat ijazah saya. Pada analisis ELA, masih terlihat tulisan “ijazah”, logo UGM, foto saya, tanda tangan rektor, serta embos, semuanya masih terdeteksi jelas.
Baca Juga:4 Penyebab Motor Honda Cepat Panas dan Overheat, Ini SolusinyaLink Resmi Cek Penerima BSU 2025 Pakai NIK, Jangan Tertipu Link Palsu
Sementara itu, pada dokumen yang diklaim sebagai ijazah milik Joko Widodo, tidak ditemukan elemen-elemen tersebut. Tidak ada tulisan “ijazah”, tidak ada logo, tidak ada embos, semuanya gelap, seolah-olah sudah mengalami proses editing atau manipulasi. Dengan kata lain, dokumen tersebut bukan otentik, melainkan hasil rekayasa digital.
Saya pertanggungjawabkan analisis ini tidak hanya kepada publik, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak menampilkan dokumen fisik aslinya saat ini, namun analisis digitalnya dapat diperlihatkan. Ijazah milik lima alumni UGM angkatan 1985 yang kami pegang, termasuk dari Fakultas Kehutanan, yang seangkatan dengan Joko Widodo, semuanya menunjukkan elemen otentik seperti tulisan ijazah, logo, embos, dan watermark.
Dokumen-dokumen ini tidak hanya kami pegang dalam bentuk analisis digital, namun juga tersedia versi fisiknya (analog). Semua diserahkan langsung oleh pemiliknya masing-masing dan siap untuk dipertanggungjawabkan di hadapan hukum.
Artinya, bukti ini menambah (bukan mengurangi) apa yang telah disampaikan oleh Bapak Rizal Fadillah sebelumnya, dan seluruhnya siap dibawa ke Bareskrim.
Sebelum ditutup, perlu saya tambahkan bahwa saya juga telah melakukan investigasi langsung ke Pasar Pramuka, dan hasilnya akan ditayangkan malam ini di salah satu program televisi, Dipo Investigasi di Kompas TV. Selanjutnya, kami akan menyampaikan paparan lebih detail pada acara “Rakyat Bersuara” bersama dr. Tifa dan dr. Taufik.
